LUWU UTARA, BUKAMATANEWS — Harapan masyarakat Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara, untuk kembali menikmati akses transportasi yang lebih lancar mulai mendapat titik terang. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mempercepat pemasangan jembatan bailey di lokasi Jembatan Sae, jalur penghubung Seko hingga perbatasan Sulawesi Barat (Sulbar), dengan target dapat difungsikan pada Oktober 2026.
Pengerjaan jembatan darurat tersebut dilakukan UPTD Wilayah I Palopo Dinas Bina Marga Sulsel sebagai pelaksana teknis lapangan. Proyek ini menjadi langkah responsif pemerintah dalam memulihkan akses transportasi masyarakat di wilayah terpencil yang menghadapi tantangan kondisi geografis dan infrastruktur.
Jembatan Sae berada di ruas jalan kewenangan provinsi, tepatnya jalur Sae–Batas Provinsi Sulawesi Barat, pada KM 541+000 atau STA 111+680 dari Jalan Nasional di Pertigaan Tugu Durian, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara.
PPTK UPTD Wilayah I Dinas Bina Marga Sulsel, Muhammad Said, menjelaskan bahwa jembatan Sae memiliki panjang 28 meter. Dalam pemasangan konstruksi darurat, pemerintah menyiapkan 12 segmen jembatan bailey dengan total panjang 36 meter.
Setiap segmen memiliki panjang 3 meter, dengan lebar panel berkisar 3,8 hingga 4 meter. Konstruksi tersebut dirancang untuk mendukung pemulihan arus lalu lintas kendaraan yang menghubungkan wilayah antar-desa di Seko hingga perbatasan Sulawesi Barat.
Said menerangkan bahwa jembatan bailey merupakan jembatan rangka baja modular yang menggunakan sistem panel. Komponen tersebut dirakit dengan pen dan pengikat sehingga dapat digunakan sebagai konstruksi jembatan darurat.
Proses pemasangan dilakukan secara bertahap, mengingat medan menuju Seko cukup berat dan membutuhkan strategi mobilisasi yang terukur.
"Jembatan ini dimobilisasi secara bertahap dari ruas Sabbang-Tallang, mengingat kondisi jalan ke Seko sangat ekstrem. Kami mengejar waktu agar mobilisasi ini dilaksanakan secepatnya sebelum memasuki musim penghujan,” jelas Said di Masamba, Rabu (23/9/2026).
Untuk mempercepat pengerjaan, tim teknis memaksimalkan berbagai peralatan pendukung yang tersedia. Armada yang digunakan meliputi dua unit dump truck, satu unit excavator PC 200, serta satu unit mobile crane yang diperbantukan dari UPTD Workshop dan peralatan dari Makassar.
Selain itu, dua unit kendaraan operasional pikap turut dikerahkan untuk mendukung kebutuhan mobilisasi dan pekerjaan di lapangan.
Tidak hanya mengandalkan peralatan, pengerjaan jembatan juga melibatkan tenaga teknis yang dibantu masyarakat setempat. Keterlibatan warga sekitar menjadi bagian dari dukungan terhadap proses pembangunan akses penghubung di wilayah Seko.
Said menyampaikan bahwa pengerjaan telah memasuki tahap perakitan dan penyambungan panel. Hingga saat ini, empat segmen jembatan telah terpasang.
“Insya Allah, saat ini sudah masuk tahap perakitan dan penyambungan panel dari segmen ke segmen, di mana sudah terpasang empat segmen,” ungkapnya.
Target Fungsional Oktober 2026
Said berharap proses pemasangan jembatan bailey berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Dengan percepatan pekerjaan dan mobilisasi peralatan, ia menargetkan jembatan tersebut sudah dapat difungsikan pada Oktober 2026.
“Semoga tidak ada halangan sehingga bisa fungsional pada bulan Oktober mendatang,” harap Said.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk segera memulihkan akses transportasi masyarakat yang membutuhkan jalur penghubung antardesa hingga wilayah perbatasan Sulawesi Barat.
Usulan Bupati Luwu Utara, Jawaban atas Kebutuhan Warga 3T
Pemasangan jembatan bailey di lokasi Jembatan Sae merupakan inisiatif dan usulan langsung Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Usulan tersebut disampaikan untuk menjawab kebutuhan mendesak masyarakat di wilayah terpencil, khususnya dalam mendukung pemulihan akses transportasi yang berperan penting bagi aktivitas sehari-hari.
Pemerintah daerah menyampaikan apresiasi atas respons Pemprov Sulsel yang bergerak menindaklanjuti kebutuhan pembangunan jembatan darurat tersebut.
“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan atas respon cepat terhadap usulan ini. Kehadiran jembatan darurat ini sangat krusial agar akses ke wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) bisa segera dilalui dengan aman,” harapnya.
Pembukaan kembali akses transportasi menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah. Jalur penghubung yang dapat dilalui dengan lebih lancar diharapkan memberi dampak langsung terhadap mobilitas masyarakat Seko dan wilayah sekitarnya.
Selain mendukung perjalanan warga, keberadaan jembatan juga diharapkan memudahkan distribusi bahan baku, logistik, dan bahan pangan. Kelancaran distribusi tersebut dinilai penting untuk membantu menekan disparitas harga barang di wilayah yang selama ini menghadapi tantangan aksesibilitas.
Dengan target fungsional pada Oktober 2026, pemasangan jembatan bailey Sae diharapkan menjadi langkah awal dalam mendukung pemulihan konektivitas dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah terpencil Luwu Utara.
BERITA TERKAIT
-
Fly Jaya Siap Buka Rute Masamba-Makassar, Penerbangan Perdana Dijadwalkan 18 Oktober
-
Pasar Sentral Masamba Dibersihkan, TNI-Pemkab Luwu Utara Kompak Gotong Royong
-
Lara Putra FC Juara APDESI CUP II Luwu Utara, Bupati Dorong Turnamen Jadi Ajang Cari Talenta Muda
-
Bupati Luwu Utara Jemput Anggaran 2027 di Kemenkes, Perjuangkan Perbaikan Sarana dan Prasarana Kesehatan
-
Andi Rahim Raih Engineering Award 2026, Kiprahnya Bangun Luwu Utara Dapat Apresiasi Unhas