Redaksi : Selasa, 22 September 2026 21:36
Dosen Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Ir. Ts. Dr. Maizatul dan tim, melihat langsung proses pengelolaan sampah organik dan kegiatan urban farming Kelompok Wanita Tani (KWT) Asal Mula, RW 05, Kelurahan Tamalanrea Indah, Makassar, Selasa (22/9/2026).

MAKASSAR, BUKAMATANEWS— Praktik Kelompok Wanita Tani (KWT) Asal Mula, RW 05, Kelurahan Tamalanrea Indah, Makassar, dalam mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos mendapat apresiasi dari dosen Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia.

Apresiasi tersebut disampaikan Ir. Ts. Dr. Maizatul, dosen UiTM Malaysia, saat mengunjungi lahan urban farming KWT Asal Mula bersama tim pengabdian masyarakat Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), Selasa (22/9/2026).

Kunjungan ini merupakan bagian dari program International Community Service Collaboration antara UiTM Malaysia dan Jurusan Teknik Elektro PNUP. Dalam kegiatan tersebut, tim melihat langsung praktik pengolahan sampah organik menggunakan komposter yang kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman urban farming yang dikelola masyarakat.

Dr. Maizatul mengaku menemukan praktik yang selama ini diajarkan di lingkungan perguruan tinggi telah diterapkan secara langsung oleh masyarakat di Tamalanrea Indah.

“Apa yang saya ajarkan di kampus saya di Malaysia ternyata ibu-ibu di sini sudah menerapkan dan mempelajari ilmunya. Mereka sudah menjadi dosen dan mahasiswa secara langsung di lapangan,” ujar Dr. Maizatul.

Menurutnya, praktik KWT Asal Mula menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai pengelolaan sampah dan keberlanjutan dapat diterapkan secara sederhana di tingkat rumah tangga dan komunitas.
Ia juga mengapresiasi upaya KWT dalam menyebarkan pengetahuan pembuatan kompos kepada rumah tangga lainnya di sekitar kawasan.

Kegiatan KWT Asal Mula merupakan bagian dari program “Sinergi Komposter dan Hidroponik untuk Pengelolaan Sampah Organik dan Ketahanan Pangan Komunitas Urban” yang dikembangkan tim dosen Teknik Eletro PNUP melalui program pemberdayaan masyarakat pemula.

Program tersebut menyasar masyarakat di kawasan perkotaan, khususnya lingkungan padat penduduk, untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos dan memanfaatkannya kembali untuk mendukung kegiatan pertanian perkotaan.

Persoalan sampah organik rumah tangga sebelumnya menjadi salah satu keresahan warga di kawasan BTN Asal Mula, RW 05, Kelurahan Tamalanrea Indah. Melalui program tersebut, sampah yang sebelumnya dibuang sebagai limbah mulai diarahkan untuk masuk ke dalam siklus pemanfaatan kembali.

Sampah organik diolah menggunakan komposter, kemudian hasil pengolahannya dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman yang dikelola masyarakat.

Ketua tim pengabdian masyarakat PNUP, Yuniarti, S.ST.,M.T mengatakan KWT Asal Mula memiliki potensi menjadi contoh pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan berbasis komunitas di kawasan perkotaan.

“Kelompok wanita tani ini sangat penting untuk menunjang ketahanan pangan. Kami melihat komunitas di Asal Mula ini bisa menjadi percontohan di kawasan urban Makassar. Sampah organik diolah kembali menjadi pupuk yang kemudian dikembalikan ke lahan kebun warga,” kata Yuniarti.

Menurut Yuniarti, pengembangan program juga diarahkan untuk mengintegrasikan keahlian teknik dengan kebutuhan masyarakat, termasuk pengembangan sistem irigasi otomatis, pemanfaatan panel surya, serta sistem pengelolaan limbah.

Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari sistem pertanian perkotaan dan ketahanan pangan masyarakat.

Bagi KWT Asal Mula, pengelolaan sampah organik sekaligus memberikan ruang bagi perempuan untuk berperan aktif dalam pengelolaan lingkungan dan produksi pangan di tingkat komunitas.

Sampah rumah tangga yang sebelumnya dipandang sebagai persoalan lingkungan diarahkan menjadi bahan yang memiliki manfaat bagi kegiatan pertanian. Kompos yang dihasilkan digunakan kembali untuk tanaman sehingga tercipta siklus sederhana dari rumah tangga, pengolahan sampah, hingga produksi pangan.

Model tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran masyarakat. Pengetahuan yang diperkenalkan melalui perguruan tinggi kemudian diterapkan langsung oleh warga dan dikembangkan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.

Kunjungan UiTM Malaysia ke KWT Asal Mula menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengetahuan akademik dengan praktik masyarakat melalui kolaborasi lintas negara.

Tim dari kedua perguruan tinggi melihat langsung proses pengelolaan sampah organik dan penerapannya pada lahan urban farming. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan lingkungan, teknologi tepat guna, dan ketahanan pangan komunitas perkotaan.

Ketua RW 05 Tamalanrea Indah, Iqbal Lubis, menyambut baik kunjungan tersebut dan berharap kerja sama antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat terus berlanjut.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan apresiasi dari universitas Malaysia. Semoga kunjungan ini memberikan pengetahuan baru bagi KWT Asal Mula, sehingga ibu-ibu dan seluruh warga bisa memanfaatkan sampah organiknya dengan baik dan ke depan memiliki nilai ekonomis,” ujar Iqbal.

Ia berharap program tersebut tidak berhenti pada kegiatan kunjungan, tetapi dapat terus dikembangkan melalui pendampingan, pertukaran pengetahuan, dan penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Kolaborasi PNUP dan UiTM Malaysia diharapkan menjadi contoh bagaimana pengetahuan perguruan tinggi dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab persoalan lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat perkotaan.