Redaksi : Jumat, 18 September 2026 21:42

BUKAMATANEWS - Fenomena El Nino yang membuat debit sejumlah sungai menyusut mulai menjadi tantangan bagi pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Di tengah penurunan produksi listrik dari sumber energi air tersebut, Kementerian ESDM melihat energi angin sebagai salah satu penopang pasokan listrik, termasuk di Sulawesi Selatan.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan kombinasi energi air dan angin menjadi salah satu opsi untuk menjaga keandalan pasokan listrik.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena ketika kapasitas PLTA menurun akibat debit air yang menyusut, potensi hembusan angin justru meningkat.

Di Sulawesi Selatan, dua pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), yakni PLTB Sidrap dan PLTB Jeneponto, tercatat mampu beroperasi secara optimal untuk menopang kebutuhan energi di wilayah tersebut.

"Intinya kalau itu ya ukuran di PLN. Saya juga baru balik dari sana karena saya berkunjung. PLTA memang turun. Turun karena berkepanjangan ya. Sekarang sungai-sungai di Kalimantan kan juga surut. Nah, yang saya lihat justru memang adalah PLTB," kata Eniya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Angin Jadi Penopang Saat PLTA Menurun

Eniya mengatakan tenaga angin memiliki karakteristik yang dapat mendukung sistem kelistrikan ketika produksi PLTA mengalami penurunan.

Menurut dia, pada periode El Nino, angin dapat bertiup secara intens dalam waktu panjang sehingga berpotensi menutup sebagian penurunan daya dari pembangkit berbasis air.

Eniya mengungkapkan karakteristik angin di Indonesia memiliki siklus tertentu selama sekitar 4 hingga 4,5 bulan, mulai Juni, Juli, Agustus, September hingga pertengahan Oktober.

Pada periode tersebut, energi angin berpotensi dihasilkan sepanjang hari. Bahkan, kondisi cuaca panas ekstrem dapat meningkatkan kecepatan dan intensitas angin.

"Nah, itu berarti kesimpulan sementara kita adalah pada saat panas ya, sungai itu surut, air itu surut, PLTA ini harus dikombinasi dengan angin," paparnya.

Potensi tersebut membuat energi angin dinilai memiliki peran dalam menjaga keseimbangan pasokan listrik ketika pembangkit berbasis air menghadapi penurunan produksi.

Potensi PLTB Capai 11 GW

Kementerian ESDM sebelumnya telah memetakan potensi pengembangan PLTB dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) hingga mencapai 11 gigawatt (GW).

Potensi tersebut tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Maluku.

Namun, Eniya menyebut investasi di sektor energi angin belum menunjukkan penambahan dalam empat tahun terakhir.

Untuk mendorong masuknya investasi baru, Kementerian ESDM kini memproses revisi Perpres Nomor 112 Tahun 2022, khususnya terkait regulasi harga patokan energi terbarukan.

"Ini kita kan sedang revisi Perpres 112, harga. Nah, harga di situ nanti saya bahas lagi karena apa, El Nino ini justru malah potensi anginnya itu bisa full 24 jam. Kita itu punya kecepatan angin sampai 31 meter per second loh," tandasnya.