Redaksi : Sabtu, 01 Agustus 2026 19:04

JAKARTA, BUKAMATANEWS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan hampir setengah wilayah Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau sepanjang Agustus 2026. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta krisis air di sejumlah daerah.

Berdasarkan proyeksi BMKG, sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus. Memasuki September, cakupan wilayah yang berada pada fase puncak kemarau diperkirakan masih mencapai 25,41 persen.

Hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sementara 77 ZOM masih berada pada musim hujan, sedangkan 113 ZOM lainnya merupakan wilayah dengan pola satu musim.

Wilayah yang diperkirakan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus meliputi Sumatra bagian tengah, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta wilayah tengah Papua Pegunungan.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.

Daerah yang masuk kategori berisiko tinggi antara lain Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.

Hingga 29 Juli 2026, BMKG telah mendeteksi 5.019 titik panas (hotspot) di berbagai wilayah Indonesia. Konsentrasi titik panas terbanyak berada di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Bahkan, partikulat asap akibat kebakaran hutan telah mulai terpantau di Kalimantan Barat.

Kemarau Diprediksi Lebih Panjang

Selain lebih luas, musim kemarau tahun ini juga diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.

BMKG memproyeksikan 437 Zona Musim atau sekitar 48,77 persen wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau dengan durasi lebih panjang.

Curah hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan baru kembali terjadi secara bertahap pada Oktober hingga November 2026.

Sejumlah daerah bahkan telah mencatat hari tanpa hujan dengan durasi cukup panjang. Rekor terlama sementara tercatat di Pos Hujan Katerban, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang mengalami 80 hari tanpa hujan.

El Nino Masih Menguat

BMKG juga mengingatkan bahwa fenomena El Nino diperkirakan masih akan bertahan hingga awal kuartal pertama 2027.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan indeks bulanan Niño 3.4 pada akhir Juni telah mencapai 1,56, atau sudah melewati ambang batas kategori El Nino kuat.

Namun demikian, menurutnya dampak terbesar El Nino terhadap Indonesia terjadi ketika fenomena tersebut bertepatan dengan musim kemarau.

"Namun, perlu digarisbawahi bahwa dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Niño bertemu langsung dengan musim kemarau," ujar Ardhasena.

Ia menambahkan, meski El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya akan terkonsentrasi selama periode musim kemarau di Indonesia.

BMKG juga mewaspadai potensi munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember 2026. Fenomena ini berpotensi memperparah kondisi kekeringan karena dapat mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.

Saat ini suhu permukaan laut di Samudra Hindia tercatat berada pada angka -0,387, yang menunjukkan peluang cukup besar terjadinya IOD positif dalam beberapa bulan ke depan.

BMKG mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air, menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, serta terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim guna mengantisipasi dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang tahun ini.