Redaksi : Kamis, 30 Juli 2026 10:23
Ilustrasi

BUKAMATANEWS - Dunia kembali dihadapkan pada ancaman fenomena iklim ekstrem. Para ilmuwan memprediksi Super El Niño 2026 berpotensi menjadi yang paling kuat dalam sejarah pencatatan modern, memicu lonjakan suhu global, cuaca ekstrem, hingga kekeringan berkepanjangan di berbagai belahan dunia.

Prediksi tersebut muncul setelah sejumlah model iklim menunjukkan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis meningkat jauh di atas kondisi normal. Jika proyeksi ini terealisasi, dampaknya diperkirakan akan melampaui Super El Niño yang terjadi pada 1997–1998 maupun 2015–2016.

Super El Niño merupakan fase El Niño dengan intensitas sangat kuat. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur mengalami pemanasan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Pemanasan tersebut mengubah pola sirkulasi atmosfer global sehingga memicu perubahan cuaca di berbagai negara.

Di Indonesia, El Niño umumnya identik dengan berkurangnya curah hujan, musim kemarau yang lebih panjang, peningkatan suhu udara, hingga meningkatnya risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta penurunan produktivitas pertanian.

Para peneliti memperkirakan anomali suhu di wilayah Niño 3.4 dapat mencapai sekitar 3,6 derajat Celsius di atas normal, atau sekitar 0,8 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rekor sebelumnya. Angka tersebut menjadi sinyal bahwa dunia berpotensi menghadapi fenomena iklim yang belum pernah tercatat dalam lebih dari satu abad terakhir.

Selain memicu cuaca ekstrem, Super El Niño juga diperkirakan akan mendorong kenaikan suhu rata-rata global hingga melampaui ambang 1,5 derajat Celsius di atas era pra-industri pada 2027. Kondisi itu berpotensi memperparah gelombang panas, memperbesar risiko gagal panen, mengganggu pasokan air bersih, hingga meningkatkan kerugian ekonomi di berbagai negara.

Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa prediksi iklim tetap memiliki tingkat ketidakpastian. Intensitas akhir El Niño masih akan dipengaruhi dinamika atmosfer dan lautan dalam beberapa bulan ke depan. Namun, konsistensi hasil berbagai model iklim membuat para pakar meminta pemerintah di berbagai negara mulai memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak yang ditimbulkan.

Bagi Indonesia, kewaspadaan menjadi kunci. Sektor pertanian, sumber daya air, energi, hingga kesehatan masyarakat diperkirakan menjadi sektor yang paling rentan terdampak apabila Super El Niño benar-benar mencapai intensitas maksimum. Oleh karena itu, langkah antisipasi sejak dini dinilai penting untuk meminimalkan risiko sosial maupun ekonomi akibat fenomena iklim ekstrem tersebut.