Redaksi : Jumat, 10 Juli 2026 16:38
Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan program mandatori Biodiesel B50, Peluncuran dilakukan di SPBU Pertamina Rest Area KM 57 Tol Jakarta–Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).

BUKAMATANEWSPresiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan program mandatori Biodiesel B50, menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan bahan bakar diesel dengan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit (FAME).

Peluncuran dilakukan di SPBU Pertamina Rest Area KM 57 Tol Jakarta–Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Kebijakan ini meningkatkan porsi biodiesel dari sebelumnya B40 yang mulai diterapkan pada awal 2025.

Presiden Prabowo menegaskan, penerapan B50 bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian energi nasional dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

"Dengan diluncurkannya program ini, Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori Biodiesel B50. Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, tetapi bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya untuk kepentingan rakyat sendiri," ujar Prabowo.

Menurutnya, ketahanan sebuah bangsa ditentukan oleh kemampuannya memenuhi kebutuhan pangan, energi, dan sumber daya air secara mandiri.

"Ini adalah tonggak penting dalam perjalanan menuju kemandirian energi. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan pangan, energi, dan airnya sendiri tanpa bergantung kepada negara lain," katanya.

Hemat Devisa Rp170 Triliun

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan implementasi B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun per tahun, meningkat dibanding penghematan sebesar Rp133,3 triliun saat penerapan B40.

Bahlil menyebut, kebijakan ini juga menjadi sejarah baru karena Indonesia tidak lagi perlu mengimpor solar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Dengan implementasi B50, kita tidak impor solar lagi. Ini bukan pekerjaan mudah, tetapi ini adalah perintah Presiden yang kami maknai sebagai langkah menuju kedaulatan energi nasional," ujar Bahlil.

Selain menghemat devisa, program B50 diperkirakan meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit menjadi sekitar Rp23,49 triliun, menyerap hingga 2,1 juta tenaga kerja, sekaligus menurunkan emisi karbon secara signifikan.

"B50 bukan sekadar campuran bahan bakar fosil dan nabati, tetapi keputusan besar bahwa Indonesia mampu berdiri di atas sumber daya yang dimiliki sendiri," tegasnya.

Kebutuhan Sawit dan Penurunan Emisi Meningkat

Kementerian ESDM mencatat kebutuhan biodiesel (FAME) untuk program B50 mencapai sekitar 16,7 hingga 18 juta kiloliter, meningkat dari 14,9 juta kiloliter pada program B40.

Sementara kebutuhan minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan naik menjadi 15,2 hingga 16,3 juta ton, dibandingkan 13,6 juta ton pada B40.

Dari sisi lingkungan, implementasi B50 diproyeksikan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO₂, lebih tinggi dibanding pengurangan emisi sebesar 39,66 juta ton pada program sebelumnya.

Harga Biosolar B50 Tetap Rp6.800 per Liter

Meski kandungan biodiesel meningkat menjadi 50 persen, pemerintah memastikan harga Biosolar subsidi di SPBU tidak mengalami perubahan.

Harga Biosolar B50 tetap dipatok Rp6.800 per liter, sama seperti harga Solar subsidi sebelumnya. Perbedaannya hanya terletak pada komposisi bahan bakar yang kini terdiri dari 50 persen solar dan 50 persen biodiesel berbahan baku minyak sawit.

Sementara untuk BBM B50 non-subsidi, harga akan mengikuti formula keekonomian yang ditetapkan pemerintah serta disesuaikan oleh masing-masing badan usaha.

Peluncuran B50 turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Direktur Utama PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra, serta sejumlah pejabat pemerintah lainnya.