Redaksi : Rabu, 08 Juli 2026 12:18
wasit asal Prancis, Francois Letexier

BUKAMATANEWS – Kepemimpinan wasit asal Prancis, Francois Letexier, kembali menjadi sorotan tajam dunia. Setelah sempat memicu amarah publik sepak bola Indonesia dua tahun lalu, Letexier kini kembali naik daun akibat serangkaian keputusan kontroversialnya yang mewarnai laga dramatis antara Timnas Argentina dan Timnas Mesir di babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Dalam laga yang berlangsung di Atlanta Stadium tersebut, Argentina berhasil melakukan comeback emosional dan menang 3-2. Namun, kemenangan sang juara bertahan menyisakan luka mendalam bagi kubu Mesir, yang merasa "dirampok" oleh keputusan sang pengadil lapangan.

Kontroversi Teranyar: VAR yang Memutus Asa Mesir
Laga baru berjalan 58 menit ketika Mostafa Ziko mencetak apa yang seharusnya menjadi gol kedua Mesir untuk memperlebar keunggulan. Namun, Letexier membatalkan gol tersebut setelah meninjau Video Assistant Referee (VAR). Ia menilai gelandang Mesir, Marwan Attia, lebih dulu melakukan pelanggaran terhadap Lisandro Martinez sebelum skema serangan balik tercipta.

Puncak drama terjadi pada masa injury time. Kapten Mesir, Mohamed Salah, dijatuhkan di kotak terlarang oleh penyerang Argentina, Julian Alvarez, setelah kakinya terlihat jelas tersangkut. Alih-alih meniup peluit penalti atau memeriksa VAR, Letexier membiarkan pertandingan terus berjalan. Ironisnya, dari momentum serangan balik instan tersebut, Enzo Fernandez justru mencetak gol kemenangan bagi Argentina pada menit ke-90+2.

Kekalahan menyakitkan ini memicu protes keras dari tim kepelatihan Mesir yang mencium adanya kejanggalan dalam perlindungan terhadap tim-tim besar.

Mengenang Luka Lama Publik Sepak Bola Indonesia
Bagi pencinta sepak bola tanah air, nama Francois Letexier bukanlah sosok yang asing. Rekor buruk kepemimpinannya dinilai menyerupai pola yang sama saat ia memimpin laga play-off Olimpiade Paris 2024 antara Timnas Indonesia U-23 melawan Guinea U-23 pada 9 Mei 2024 di Prancis.

Kala itu, absennya teknologi VAR di fase play-off membuat Letexier dengan leluasa menunjuk titik putih pada menit ke-18 setelah Algassime Bah terjatuh. Padahal, tayangan ulang televisi memperlihatkan dengan jelas bahwa pelanggaran oleh Witan Sulaeman terjadi di luar kotak penalti.

Tak berhenti di situ, pada menit ke-72, ia kembali memberikan penalti gaib kedua untuk Guinea. Tekel bersih Alfeandra Dewangga yang mutlak mengenai bola terlebih dahulu tetap dianggap sebagai pelanggaran berat. Protes keras yang dilayangkan pelatih Indonesia saat itu, Shin Tae-yong, bahkan berujung pada kartu merah langsung dari Letexier, sekaligus mengubur mimpi generasi emas Indonesia tampil di Olimpiade.

Rekam Jejak yang Dipertanyakan
Meski menyandang lisensi FIFA sejak 2017 dan pernah dipercaya memimpin laga besar sekelas Final Euro 2024, performa Letexier di turnamen mayor kerap meninggalkan noda profesionalisme. Konsistensi keputusannya yang sering kali menguntungkan pihak tertentu kini kembali memicu perdebatan global mengenai standar kompetensi wasit di level tertinggi sepak bola dunia.