BUKAMATANEWS - Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu pagi. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global membuat mata uang Garuda bergerak melemah dan semakin mendekati level psikologis baru di kisaran Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan data pasar Investing, Rabu (1/7/2026) pukul 08.26 WIB, rupiah tercatat melemah 0,43 persen atau sekitar 77,1 poin ke level Rp17.947,8 per dolar AS.
Posisi tersebut menjadi perhatian pasar karena rupiah kembali bergerak mendekati ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS, level yang menjadi indikator penting bagi pelaku pasar dalam melihat tekanan terhadap mata uang domestik.
Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar AS (DXY) yang naik 0,11 persen ke posisi 101,055. Kenaikan indeks dolar mencerminkan meningkatnya permintaan investor terhadap aset berbasis dolar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Tekanan tidak hanya terjadi terhadap dolar AS. Rupiah juga mengalami pelemahan terhadap sejumlah mata uang utama dunia maupun regional Asia.
Terhadap yuan China (CNY), rupiah terkoreksi 0,20 persen menjadi Rp2.645,30. Sementara terhadap yen Jepang (JPY), rupiah melemah 0,15 persen ke level Rp110,35.
Mata uang Garuda juga kehilangan tenaga terhadap ringgit Malaysia (MYR) yang menguat 0,13 persen menjadi Rp4.391,89 serta dolar Singapura (SGD) yang naik 0,10 persen ke posisi Rp13.860,73.
Sementara terhadap euro (EUR), pergerakan rupiah relatif stabil dengan berada di sekitar Rp20.407 per euro.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, peluang penguatan rupiah masih terbatas. Rupiah hanya mampu menguat tipis terhadap beberapa mata uang kawasan, termasuk baht Thailand (THB) yang melemah 0,08 persen ke level Rp538,897 dan won Korea Selatan (KRW) yang turun 0,47 persen menjadi Rp11,5235.
Selain pasar valuta, pergerakan aset global juga ikut mencerminkan sentimen investor. Harga emas dunia (XAU/USD) tercatat terkoreksi 0,58 persen atau turun 23,16 poin ke level USD3.984,66 per troy ons.
Penurunan harga emas terjadi seiring penguatan dolar AS yang membuat aset lindung nilai tersebut menjadi kurang menarik bagi sebagian investor.
Pelaku pasar kini masih menunggu perkembangan sentimen global, terutama arah kebijakan moneter AS, pergerakan indeks dolar, serta kondisi ekonomi dunia yang akan menjadi penentu utama pergerakan rupiah dalam perdagangan selanjutnya.
BERITA TERKAIT
-
Investor Pilih 'Wait and See', Rupiah Pagi Ini Tertahan di Rp17.855 per Dolar AS
-
Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Kembali Tersungkur ke Level Rp18.000
-
Dollar Melambung, Sri Mulyani Pasang Alarm Waspada Tingkat Tinggi
-
Jawaban BI Soal Rupiah yang Terus Melemah
-
Ini 10 Mata Uang Terendah di Dunia, Indonesia Urutan ke Berapa?