Dewi Yuliani : Rabu, 01 Juli 2026 14:41
Gerakan penanaman 1.000 pohon palem yang digagas MAN 3 Kota Makassar mengantarkan madrasah tersebut meraih penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

MAKASSAR, BUKAMATANEWS – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kota Makassar kembali mencuri perhatian. Bukan hanya karena prestasi akademik, madrasah ini berhasil mencatatkan sejarah lewat gerakan peduli lingkungan sekaligus mengukir prestasi di panggung internasional.

Dua kabar membanggakan dibawa Kepala MAN 3 Kota Makassar, Zulfikah Nur, saat melakukan audiensi dengan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel, Ali Yafid.

Gerakan penanaman 1.000 pohon palem yang digagas MAN 3 Kota Makassar mengantarkan madrasah tersebut meraih penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penghargaan itu diberikan atas capaian MAN 3 sebagai sekolah keagamaan pertama yang melakukan penanaman pohon palem di lingkungan sekolah/madrasah, dan diserahkan di Jakarta pada 23 Juni 2026.

Rekor tersebut bermula dari kegiatan penanaman 1.000 pohon palem yang dilaksanakan pada 25 November 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional. Gerakan yang melibatkan seluruh warga madrasah itu menjadi bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan melalui program Penguatan Ekoteologi Kementerian Agama.

Pada pelaksanaan kegiatan, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel, Ali Yafid, turut menanam pohon palem ke-1.000 sebagai penanda rampungnya gerakan penghijauan di lingkungan MAN 3 Kota Makassar.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel, Ali Yafid, menyampaikan kebanggaannya atas penghargaan yang diraih MAN 3 Kota Makassar. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa madrasah mampu menghadirkan program yang tidak hanya berdampak bagi peserta didik, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan.

"Selamat kepada keluarga besar MAN 3 Kota Makassar atas penghargaan MURI yang berhasil diraih. Ini merupakan capaian yang membanggakan bagi dunia madrasah di Sulawesi Selatan. Saya berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi madrasah lainnya untuk mengembangkan gerakan ekoteologi sesuai dengan potensi dan karakteristik masing-masing," ujar Ali Yafid.

Ia menegaskan bahwa penghargaan tersebut hendaknya tidak dipandang sebagai tujuan akhir. Menurutnya, keberhasilan yang sesungguhnya adalah menjaga keberlanjutan gerakan yang telah dimulai.

"Penghargaan ini menjadi penyemangat, tetapi jangan berhenti pada pengakuan yang telah diterima. Yang lebih penting adalah memastikan pohon-pohon yang telah ditanam terus dirawat, lingkungan tetap terjaga, dan kepedulian terhadap alam tumbuh menjadi budaya di lingkungan madrasah. Dengan begitu, ekoteologi tidak hanya menjadi program, tetapi menjadi bagian dari karakter warga madrasah," tegasnya.

Sementara itu, Kepala MAN 3 Kota Makassar, Zulfikah Nur, mengatakan, penghargaan MURI merupakan hasil dari komitmen dan kolaborasi seluruh warga madrasah dalam mewujudkan lingkungan belajar yang lebih hijau dan nyaman.

"Alhamdulillah, penghargaan ini adalah hasil kerja bersama seluruh keluarga besar MAN 3 Kota Makassar. Penanaman 1.000 pohon palem bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi bagian dari pendidikan karakter agar peserta didik memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Kami ingin menjadikan madrasah sebagai ruang belajar ekoteologi, tempat lahirnya generasi yang cerdas, berakhlak, dan cinta lingkungan," ungkapnya.

Menurut Zulfikah, keberadaan 1.000 pohon palem telah memberikan manfaat bagi lingkungan madrasah, mulai dari menciptakan kawasan yang lebih teduh, membantu menurunkan suhu udara, meningkatkan kualitas udara, hingga menjadi media pembelajaran tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Penghargaan MURI yang diraih MAN 3 Kota Makassar diharapkan menjadi pemantik lahirnya lebih banyak gerakan pelestarian lingkungan di madrasah. Dengan demikian, penguatan ekoteologi tidak hanya diwujudkan melalui program sesaat, tetapi menjadi budaya yang terus tumbuh di lingkungan pendidikan.

Dengan Rekor MURI ekoteologi dan dua gelar juara dunia robotik, MAN 3 Kota Makassar membuktikan bahwa madrasah mampu melahirkan generasi yang peduli bumi, kreatif, dan siap bersaing di tingkat dunia. (*)