Redaksi
Redaksi

Sabtu, 23 Mei 2026 16:48

Didominasi Lansia, Ini Daftar 9 Jemaah Haji Embarkasi Makassar yang Gugur di Tanah Suci

Didominasi Lansia, Ini Daftar 9 Jemaah Haji Embarkasi Makassar yang Gugur di Tanah Suci

Kemenhaj Sulsel catat 9 jemaah haji Embarkasi Makassar gugur di Makkah & Madinah. Mayoritas lansia akibat syok kardiogenik. Simak kisah lengkapnya.

BUKAMATANEWS - Niat suci untuk menyempurnakan rukun Islam kelima senantiasa menuntut ketahanan fisik yang luar biasa. Bagi sebagian jemaah haji Embarkasi Makassar, perjalanan menuju Tanah Suci tahun 2026 ini bukan sekadar perjalanan ibadah biasa, melainkan babak terakhir dari lembaran kehidupan mereka di dunia. Berdasarkan data resmi dari Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sulawesi Selatan, sebanyak sembilan jemaah dari embarkasi ini dilaporkan gugur. Delapan di antaranya mengembuskan napas terakhir di Arab Saudi, sementara satu jemaah berpulang di tanah air, bahkan sebelum sempat lepas landas dari Makassar.

Dibalik angka-angka statistik tersebut, tersimpan cerita perjuangan yang menyentuh hati. Mayoritas jemaah yang wafat merupakan kelompok lanjut usia (lansia). Berdasarkan catatan medis, sebagian besar dari mereka tumbang akibat *syok kardiogenik*—sebuah kondisi darurat medis yang fatal di mana jantung tiba-tiba melemah drastis, sehingga tidak mampu lagi memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh. Perubahan cuaca yang ekstrem di Arab Saudi, dikombinasikan dengan ritme serta kepadatan aktivitas ibadah fisik yang menguras energi, disinyalir menjadi ujian terberat bagi raga jemaah yang telah sepuh ini.

Kisah duka ini dimulai dari Madinah, kota pertama yang menyambut sebagian kloter jemaah. Nursidah Sinrang Sijarra, jemaah asal Kabupaten Gowa yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 5, menjadi jemaah pertama yang berpulang pada 26 April 2026. Almarhumah meninggal dunia akibat *Systemic Inflammatory Response*, sebuah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh memberikan respons peradangan yang berlebihan dan tidak terkendali ke seluruh tubuh.

Tak lama berselang, pada 8 Mei 2026, duka kembali menyelimuti Madinah ketika Siti Totou Umar, jemaah asal Ternate (Maluku Utara) dari Kloter 15, wafat akibat *Acute myocardial infarction* atau serangan jantung mendadak. Menyusul kemudian Caming Sade Sakka, jemaah Kloter 3 asal Kabupaten Bone, yang mengembuskan napas terakhirnya pada 18 Mei 2026 akibat kegagalan pernapasan serius (*adult respiratory distress*).

Ketika gelombang jemaah mulai bergeser ke Makkah untuk bersiap menghadapi puncak haji, kabar duka tidak juga surut. Hanya dalam waktu singkat, beberapa jemaah harus merelakan mimpinya di kota suci ini:

1. Pinta Latif Abd. Latif (51 tahun): Jemaah asal Wajo yang berada di Kloter 8 ini meninggal dunia pada 19 Mei 2026 akibat serangan *syok kardiogenik*.

2. Mahani Pangewa (85 tahun): Sebagai salah satu jemaah paling sepuh asal Wajo (Kloter 18), ia menyerah pada kondisi *septic shock*—penurunan tekanan darah ekstrem akibat infeksi berat—pada tanggal yang sama, 19 Mei 2026.

3. Darmina Sikki Kullase (48 tahun) & Lau Bade Maperreng (66 tahun):** Dua jemaah asal Soppeng dan Wajo ini sama-sama berpulang pada 21 Mei 2026 akibat komplikasi jantung yang berujung pada *syok kardiogenik*.

4. Sri Nafisa Quiliem (65 tahun):** Jemaah asal Ambon, Maluku, melengkapi daftar duka di Makkah setelah dinyatakan wafat pada 22 Mei 2026.

Sementara itu, kisah yang tidak kalah memilukan datang dari Syamsuddin Puang Launang, jemaah asal Mamuju (Sulawesi Barat). Angan-angannya untuk menginjakkan kaki di depan Ka'bah harus terhenti di ruang perawatan RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Ia wafat sebelum sempat mencicipi udara penerbangan menuju Jeddah.

Kehilangan anggota keluarga di tempat yang jauh tentu meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi sanak saudara di tanah air. Namun, di balik air mata yang tumpah, ada secercah keikhlasan dan rasa syukur yang menguatkan hati mereka. Dalam keyakinan banyak umat Muslim, wafat di Tanah Suci saat sedang menunaikan ibadah haji, terlebih dalam keadaan berihram, adalah sebuah akhir hidup yang sangat mulia dan dicemburui (*husnul khatimah*).

Meskipun raga sembilan jemaah ini tidak akan pernah kembali ke rumah untuk disambut oleh keluarga, nama mereka akan selalu dikenang sebagai para syuhada yang gugur di tengah jihad memenuhi panggilan Allah Swt. Perjalanan mulia mereka kini telah usai, berganti dengan istirahat abadi di bumi tempat lahir dan berkembangnya Islam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Jamaah Haji 2026 #Embarkasi Makassar

Berita Populer