Redaksi
Redaksi

Senin, 11 Mei 2026 14:18

Indonesia Menuju “Drifting Economy”, IKAFE Unhas Ingatkan Bahaya Stabilitas Tanpa Transformasi

Indonesia Menuju “Drifting Economy”, IKAFE Unhas Ingatkan Bahaya Stabilitas Tanpa Transformasi

IKAFE Unhas mengingatkan Indonesia tengah menuju fase “drifting economy” akibat stabilitas ekonomi yang dinilai kehilangan daya dorong transformasi. Seruan Bulungan menyoroti tekanan fiskal, pelemahan manufaktur, stagnasi daya beli, hingga ancaman krisis kepercayaan publik.

JAKARTA, BUKAMATANEWS — Pengurus Pusat Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IKAFE Unhas) menyuarakan keprihatinan terhadap arah perekonomian nasional yang dinilai tengah menghadapi persoalan struktural semakin kompleks. Dalam forum diskusi yang digelar di kawasan Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (10/5/2026), para alumni ekonomi Unhas menilai Indonesia sedang bergerak menuju fase drifting economy atau ekonomi yang berjalan tanpa arah transformasi yang jelas.

Melalui dokumen bertajuk “Seruan Bulungan”, IKAFE Unhas menegaskan bahwa stabilitas ekonomi yang selama ini menjadi kebanggaan Indonesia mulai kehilangan daya dorong transformatifnya.

“Diagnosis ekonomi Indonesia hari ini menunjukkan bahwa kita masih memiliki organ-organ vital yang bekerja. Inflasi relatif terkendali, sistem keuangan masih berjalan, dan aktivitas ekonomi belum lumpuh. Namun di balik stabilitas itu, tersimpan komplikasi kronis yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan stimulus sesaat atau narasi optimisme,” ujar Ketua Umum IKAFE Unhas, Hendra Noor Saleh.

Forum tersebut turut dihadiri sejumlah akademisi, profesional, pengusaha, hingga tokoh masyarakat dari berbagai daerah. Mereka berasal dari beragam latar belakang, mulai dari profesor, doktor, direktur perusahaan, CEO, pelaku usaha, hingga praktisi sektor keuangan.

Menurut IKAFE Unhas, selama dua dekade terakhir Indonesia memang berhasil menjaga fondasi makroekonomi melalui pengendalian inflasi, disiplin fiskal, stabilitas nilai tukar, dan penguatan sektor perbankan. Namun, stabilitas tersebut dinilai belum berhasil ditransformasikan menjadi kekuatan produktif yang mampu mendorong industrialisasi, inovasi, dan peningkatan daya saing nasional.

“Fondasi yang kuat tanpa bangunan ekonomi yang produktif hanya akan menghasilkan ruang kosong. Tantangan terbesar Indonesia hari ini bukan lagi sekadar menjaga stabilitas, tetapi bagaimana menjadikan stabilitas sebagai energi penggerak produktivitas, lapangan kerja berkualitas, dan pertumbuhan yang inklusif,” lanjut Hendra.

IKAFE Unhas menilai persoalan utama ekonomi nasional saat ini bukan terletak pada satu indikator tertentu, melainkan lemahnya sinkronisasi antarfondasi ekonomi. Dalam dokumen tersebut disebutkan, ekonomi transformatif membutuhkan tiga integrasi utama, yakni integrasi horizontal antara sektor hulu dan hilir industri, integrasi vertikal antara kebijakan fiskal dan moneter, serta integrasi sumber daya manusia agar pertumbuhan ekonomi benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di sisi lain, tekanan fiskal disebut semakin berat. Penerimaan negara dinilai melemah, rigiditas belanja membatasi fleksibilitas anggaran, sementara subsidi dan program populis dianggap terus menggerus ruang fiskal produktif.

“Negara mengelola anggaran besar, tetapi belum sepenuhnya diarahkan secara strategis untuk sektor-sektor yang mampu menciptakan efek pengganda ekonomi jangka panjang seperti industrialisasi, pendidikan berkualitas, inovasi teknologi, dan peningkatan produktivitas nasional,” demikian isi Seruan Bulungan.

IKAFE Unhas juga menyoroti sejumlah indikator ekonomi terkini yang dinilai patut diwaspadai. Di antaranya tekanan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar AS pada Mei 2026, kenaikan harga energi nonsubsidi, pelemahan sektor manufaktur yang tercermin dari kontraksi Purchasing Managers’ Index (PMI), stagnasi daya beli masyarakat, hingga meningkatnya beban pembayaran bunga utang negara.

Menurut mereka, kondisi tersebut berpotensi menggerus kepercayaan publik, melemahkan daya tahan ekonomi nasional, dan meningkatkan risiko instabilitas sosial-politik apabila tidak segera ditangani secara tepat.

IKAFE Unhas mengingatkan bahwa sejarah Indonesia pernah mengalami gejolak besar akibat kombinasi tekanan ekonomi, menurunnya legitimasi publik, dan ketidakpastian politik seperti yang terjadi pada krisis 1997–1998.

Karena itu, organisasi alumni tersebut menyerukan perlunya keberanian politik dan kejujuran intelektual dalam membaca kondisi ekonomi nasional. Mereka menilai komunikasi publik pemerintah harus berbasis data dan realitas, bukan sekadar narasi optimisme.

“Budaya Asal Bapak Senang harus dihentikan karena hanya akan memperburuk keadaan dan menurunkan kepercayaan publik,” tegas IKAFE Unhas.

Dalam rekomendasinya, IKAFE Unhas mendorong penguatan meritokrasi, kompetensi, integritas, serta keterbukaan terhadap kritik dan evaluasi dalam tata kelola negara. Mereka juga menilai Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang inklusif, independen, dan kompeten, serta sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil.

Selain itu, mereka meminta pemerintah melakukan kalibrasi ulang terhadap prioritas anggaran, memastikan program strategis berjalan secara selektif dan transparan, serta memperkuat kualitas pelayanan publik.

“Pada akhirnya, tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar menjaga stabilitas ekonomi, tetapi memastikan stabilitas mampu menjadi energi penggerak transformasi nasional. Sebab tanpa transformasi yang produktif, stabilitas hanya akan menjadi angka-angka indah di atas kertas, namun rapuh menghadapi tekanan perubahan zaman,” tutup pernyataan tersebut.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Ikafe Unhas

Berita Populer