JAKARTA, BUKAMATANEWS - Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) memastikan kondisi empat WNI yang menjadi korban pembajakan kapal di Somalia dalam kondisi baik. Saat ini, KBRI Nairobi terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak di Somalia menyusul pembajakan kapal MT Honour 25 di perairan Hafun pada 22 April 2026 lalu
Kapal tersebut diawaki oleh 15 orang, termasuk empat warga negara Indonesia (WNI), serta awak dari Pakistan, India, dan Myanmar.
Direktur Pelindungan WNI Kemenlu RI, Heni Hamidah, mengatakan, berdasarkan informasi terakhir, kondisi para ABK WNI dalam keadaan baik. Penanganan masih terus berlangsung dengan melibatkan otoritas setempat, tokoh masyarakat, serta pelaku usaha terkait.
"Kami terus berkoordinasi secara intensif dengan seluruh pihak terkait di Somalia untuk menindaklanjuti laporan pembajakan ini. Berdasarkan informasi terakhir, para ABK WNI dalam kondisi baik dan upaya penanganan terus dilakukan dengan mengedepankan keselamatan mereka," ujar Heni dikutip Sabtu, 2 Mei 2026.
Di sisi lain Heni memastikan, pemerintah terus memperkuat langkah pencegahan, antara lain melalui penguatan pendataan ABK WNI yang bekerja di luar negeri. Kemudian, optimalisasi kerja sama bilateral, regional, dan multilateral.
"Penguatan data ABK WNI menjadi sangat penting untuk memastikan pelindungan ketika terjadi permasalahan. Kami juga mendorong para ABK untuk bekerja melalui prosedur resmi guna meminimalkan risiko di luar negeri," kata Heni.
Kemenlu mencatat, saat ini terdapat sekitar 321 ABK WNI yang terdata, terdiri dari 81 awak kapal nelayan, 188 awak kapal niaga, dan 44 awak kapal perikanan. Data tersebut masih terus diperbarui melalui koordinasi dengan instansi terkait.
"Kalau yang tercatat di kami itu ada 321 ABK, 81 merupakan awak kapal nelayan, 188 awak kapal niaga, dan 44 awak kapal perikanan. Kita juga sedang berkoordinasi dengan instansi terkait terutama Kemenhub untuk mengupdate data-data para ABK kita di luar negeri,' ujar Heni.
Diketahui, salah satu dari korban pembajakan ini adalah warga Kabupaten Gowa, Sulsel, Ashari Samadikun, yang merupakan nahkoda kapal. (*)