Redaksi : Selasa, 21 April 2026 12:07

MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Kota Makassar memanfaatkan sumber air alternatif dari Sungai Moncongloe dan Sungai Jeneberang untuk menutupi defisit pasokan air bersih di wilayah utara kota. Langkah ini diambil menyusul penurunan signifikan debit air baku dari Bendung Leko Pancing, Kabupaten Maros.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bagian Distribusi dan Kehilangan Air (DKA) PDAM Makassar, Wahidin, mengungkapkan bahwa pasokan normal dari Bendung Leko Pancing berkisar antara 1.100 hingga 1.200 liter per detik. Namun saat ini, debit air turun menjadi sekitar 810 liter per detik.

“Untuk menutupi kekurangan, kami memanfaatkan suplai dari Sungai Jeneberang melalui intake Mallengkeri, meskipun hanya mampu menyuplai sekitar 260 liter per detik,” ujar Wahidin dalam konferensi pers, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan, produksi air dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Panaikang saat ini hanya mencapai 305 liter per detik. Kondisi tersebut menyebabkan kekurangan suplai sekitar 250 liter per detik untuk melayani kawasan utara Makassar.

Menurut Wahidin, distribusi air ke wilayah utara masih mengandalkan sistem gravitasi yang membutuhkan debit besar dan stabil. Akibatnya, gangguan layanan berpotensi terjadi, terutama di daerah ujung jaringan pipa seperti Kecamatan Ujung Tanah, Tallo, dan Wajo.

“Dalam kondisi normal, kebutuhan air ke wilayah utara mencapai sekitar 550 liter per detik. Jika pasokan di bawah angka tersebut, maka distribusi ke wilayah ujung pipa akan terdampak,” jelasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, PDAM Makassar menargetkan optimalisasi pemanfaatan air dari Sungai Moncongloe yang terintegrasi dengan Waduk Nipa-Nipa. Sumber ini diperkirakan mampu menyuplai antara 600 hingga 900 liter per detik, sehingga total pasokan dapat kembali mendekati kondisi normal sebesar 1.300 liter per detik.

Sementara itu, Plt Direktur Utama PDAM Makassar, Andi Syahrum Makkurade, menegaskan pihaknya akan segera menindaklanjuti arahan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, untuk memprioritaskan penanganan krisis air bersih di wilayah utara.

“Masyarakat membutuhkan ketersediaan air tanpa melihat sumbernya. Karena itu, kami fokus memastikan pasokan tetap tersedia, khususnya di wilayah utara,” kata Syahrum.

Selain itu, ia menginstruksikan pengadaan pompa cadangan guna mengantisipasi gangguan operasional di instalasi pengolahan air.

“Pengadaan pompa harus disiapkan lebih dari satu unit agar jika terjadi kerusakan, penggantian bisa dilakukan segera tanpa mengganggu pelayanan,” tegasnya.

Dalam menghadapi potensi dampak fenomena El Nino, PDAM Makassar juga menyiapkan langkah antisipatif dengan menambah armada mobil tangki air dari 14 unit menjadi 80 unit. Armada ini akan disiagakan untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang terdampak.

Selain itu, bantuan sumur bor juga disiapkan di sejumlah titik sebagai sumber air tambahan.

Syahrum menegaskan bahwa PDAM sebagai perusahaan daerah tetap mengedepankan fungsi pelayanan publik. Distribusi air bersih akan diberikan tidak hanya kepada pelanggan resmi, tetapi juga kepada masyarakat umum yang membutuhkan.

“PDAM adalah milik pemerintah, sehingga pelayanan air bersih juga ditujukan bagi seluruh warga Kota Makassar, termasuk yang belum menjadi pelanggan,” pungkasnya.