KALBAR, BUKAMATANEWS - Helikopter PK-CFX milik PT Matthew Air jatuh di wilayah Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Sebelumnya, helikopter jenis Airbus H130 ini dilaporkan hilang kontak pada Kamis, 16 April 2026, sekitar pukul 10.40 WIB, saat terbang dari Melawi menuju Kubu Raya. Seluruh korban jatuhnya helikopter ini telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Dari total delapan korban, masih ada tiga yang belum dievakuasi karena dalam kondisi terjepit di bangkai helikopter. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kemenhub, Lukman F Laisa, mengatakan, salah korban merupakan warna negara Malaysia.
"Helikopter tersebut diawaki oleh orang pilot, yaitu Capt. Marindra Wibowo dan engineer Harun Arasyid serta enam penumpang," katanya dalam keterangan resmi, Jumat, 17 April 2026.
Selain itu, dia mengatakan bahwa pemerintah akan terus berkoordinasi dengan Basarnas, serta pihak terkait setempat guna proses evakuasi dan penanganan lebih lanjut di lokasi kejadian.
Pengamat Transportasi Udara Kalimantan Barat, Syarif Usmulyani Alqadrie mengatakan, faktor mekanis atau perawatan pesawat diduga menjadi penyebab kecelakaan. Selain itu, ada juga faktor cuaca yang bisa dijadikan penyebab dari kecelakaan helikopter Airbus H130 PK-CFX.
"Dari lima faktor, faktor cuaca bisa dikesampingkan karena berdasarkan rekaman dan kesaksian di lokasi kejadian, kondisi cuaca saat helikopter jatuh dilaporkan cerah dan tidak terjadi hujan maupun gangguan cuaca ekstrem," ucapnya.
Ia mengatakan, dalam dunia penerbangan terdapat lima faktor utama yang umumnya menjadi penyebab kecelakaan. Faktor tersebut meliputi faktor manusia, cuaca, gangguan atmosfer, kondisi landasan, serta faktor mechanical maintenance.
Kecelakaan helikopter tersebut diketahui terjadi setelah berangkat dari Melawi menuju Kubu Raya sekitar pukul 08.34 WIB. Dan sempat melakukan komunikasi terakhir sebelum akhirnya dilaporkan hilang kontak sekitar pukul 10.40 WIB.
Berdasarkan analisis awal dari rekaman visual yang beredar, ia menduga adanya gangguan pada sistem utama pesawat. Khususnya pada bagian rotor utama (main rotor) yang berada di bagian tengah badan helikopter.
"Dari rekaman, posisi helikopter saat jatuh tidak langsung terjun bebas, tetapi seperti masih berusaha melakukan pendaratan. Ini mengindikasikan kemungkinan adanya masalah pada sistem mekanikal, khususnya rotor utama atau sistem penggeraknya," ujarnya. (*)
TAG
BERITA TERKAIT
-
Angkasa Pura Catat 7,4 Juta Pemudik Lebaran di 37 Bandara
-
Bupati Maros Raih Penghargaan dari Basarnas atas Dukungan SAR Kecelakaan Pesawat di Bulusaraung
-
Lewat Sidik Jari, Identitas Tujuh Korban Kecelakaan ATR 42-500 Terungkap
-
Operasi SAR Pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung Resmi Ditutup
-
Seluruh Korban Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 Sudah Berhasil Ditemukan