Redaksi : Sabtu, 28 Februari 2026 17:46
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu

BUKAMATANEWS - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa Israel dan Amerika Serikat telah memulai operasi militer gabungan terhadap Iran. Operasi tersebut diklaim bertujuan menghilangkan apa yang ia sebut sebagai “ancaman eksistensial” dari rezim Iran.

Dalam pesan video yang dirilis Sabtu, Netanyahu menyebut rezim di Teheran sebagai “rezim teror pembunuh” yang tidak boleh dibiarkan memiliki senjata nuklir yang dapat mengancam “seluruh umat manusia.”

“Operasi gabungan ini akan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran yang berani untuk menentukan nasib mereka sendiri,” ujarnya.

Netanyahu juga menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat Iran—termasuk Persia, Kurdi, Azeri, Baloch, dan Ahwazi—untuk melepaskan diri dari apa yang ia sebut sebagai “belenggu tirani” dan membangun Iran yang bebas serta cinta damai.

Ia menegaskan bahwa operasi yang diluncurkan kali ini jauh lebih kuat dibandingkan tindakan sebelumnya, sekaligus menekankan kembali bahwa Israel tidak akan pernah mengizinkan Teheran memperoleh senjata nuklir.

Israel mengumumkan serangan terhadap Iran pada Sabtu dini hari dengan sandi operasi “Lion’s Roar”. Pemerintah Israel juga menetapkan status darurat khusus dan segera di seluruh wilayah negara tersebut.

Tak lama berselang, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa AS turut meluncurkan “operasi tempur besar” terhadap rezim Iran.

Serangan ini terjadi di tengah proses negosiasi antara Washington dan Teheran terkait program nuklir Iran yang dimediasi Oman. Putaran pembicaraan terbaru yang digelar di Jenewa berakhir pada Kamis lalu tanpa kesepakatan final.

Sebelumnya, pada Juni tahun lalu, Amerika Serikat juga melancarkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran dalam perang 12 hari antara Israel dan Iran.

Dengan dimulainya operasi militer terbaru ini, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam dan memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.