Menkeu Purbaya Sebut Ekonomi RI Tak Bergantung Global Ini Buktinya!
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ekonomi Indonesia tetap kuat meski global gonjang-ganjing. Sebanyak 90 persen perekonomian ditopang permintaan domestik
JAKARTA, BUKAMATANEWS — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah ketidakpastian global. Ia menegaskan, struktur ekonomi nasional saat ini tidak bergantung penuh pada kondisi luar negeri karena sekitar 90 persen ditopang oleh permintaan domestik.

Hal itu disampaikan Purbaya saat menyampaikan orasi ilmiah dalam wisuda di Universitas Indonesia (UI), Sabtu (14/2). Menurutnya, sebagian kalangan terlalu pesimis dalam memandang situasi ekonomi global yang penuh gejolak dan ketidakpastian.
Ia menyayangkan narasi yang menggambarkan masa depan Indonesia seolah suram akibat tekanan global. Padahal, kontribusi permintaan luar negeri terhadap perekonomian Indonesia hanya sekitar 10 persen.
“Jadi kalau yang 10 persen amburadul, saya hidupkan yang 90 persen. Kita harusnya masih nggak apa-apa. Intinya adalah, Anda jangan takut, nasib kita di tangan kita sendiri,” tegas Purbaya.
Menkeu juga menyinggung minimnya peran sejumlah ekonom dalam menggarisbawahi kekuatan permintaan domestik tersebut. Ia menilai, potensi dalam negeri harus menjadi fokus utama dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, Purbaya berharap ekonomi Indonesia mampu tumbuh lebih tinggi. Ia mengajak generasi muda, khususnya para wisudawan UI, untuk berkontribusi dalam mengelola dan memperkuat permintaan dalam negeri.
“Kalau Anda nanti pintar-pintar mengurus permintaan dalam negeri tadi, walaupun ekonomi gonjang-ganjing, kita bilang go to hell,” ujarnya.
Menurutnya, perekonomian memang bergerak dalam siklus naik turun atau yang dikenal sebagai business cycle. Indonesia sempat mengalami resesi pada 2020, kemudian memasuki fase ekspansi pada 2023.
“Resesi kita terakhir tahun 2020, 2023 kita memasuki fase ekspansi lagi, dan kalau kita pintar, kita bisa ekspansi itu sampai 2033 sebelum ekonominya melambat lagi,” jelasnya.
Purbaya menilai Indonesia memiliki potensi pertumbuhan hingga 6,7 persen bahkan mendekati 7 persen. Dengan pertumbuhan tersebut, Indonesia diyakini mampu menyerap tenaga kerja baru yang terus bertambah setiap tahun.
Ia juga mencontohkan sejumlah negara maju seperti Korea, Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, dan China yang mampu mencatat pertumbuhan tinggi dalam waktu panjang sebelum mencapai status negara maju.
“Untuk menjadi negara maju, Anda harus tumbuh double digit dalam lebih dari 10 tahun,” tandasnya.
Dengan optimisme tersebut, pemerintah berharap penguatan sektor domestik menjadi kunci menghadapi ketidakpastian global sekaligus mendorong Indonesia menuju pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
News Feed
Berita Populer
13 Juni 2026 13:43
