PAREPARE, BUKAMATANEWS – Sebanyak 10.000 bibit kopi robusta mulai ditanam di Kelurahan Wattang Bacukiki, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, Kamis (5/2/2026). Penanaman ini menjadi bagian dari program pengembangan pangan hutan berbasis kopi yang dirancang berkelanjutan oleh kalangan pengusaha muda bersama pemerintah setempat.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Bidang III BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sulawesi Selatan dan BPC HIPMI Parepare. Mereka menggandeng 16 petani dari dua kelompok tani, yakni Kelompok Tani Hutan Alam Jaya dan Kelompok Tani Masumpulolo.
Wali Kota Parepare, Tasming Hamid, yang turun langsung memimpin penanaman secara simbolis, mengatakan bahwa aksi ini tidak hanya menjaga lingkungan tetapi juga memiliki nilai ekonomi strategis.
"Penanaman ini memiliki makna penting dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus bernilai ekonomis. Pemerintah Kota Parepare siap menjadi mitra untuk memastikan perawatan bibit kopi robusta berjalan berkelanjutan," ujar Tasming usai menyerahkan bibit secara simbolis kepada petani.
Ia berharap kopi dapat menjadi ikon pertanian baru Parepare, seiring dengan maraknya pertumbuhan warung kopi di daerah tersebut.
Parepare Butuh 400 Kg Kopi per Bulan
Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bila Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulsel, Muhammad Fitra, mengungkapkan bahwa potensi pasar kopi di Parepare sangat besar. Saat ini, terdapat sekitar 600 warung kopi yang kebutuhan kopi siap roasting mencapai 400 kilogram per bulan.
"Ini peluang besar. Penanaman kopi robusta ini menjadi momentum agar Parepare mandiri dalam produksi kopi," kata Fitra.
Ia menambahkan, kopi robusta mudah dibudidayakan, bisa ditumpangsarikan dengan jagung, dan memiliki masa panen berkelanjutan. Program ini dinilai sejalan dengan program Revolusi Hijau Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Ketua Umum BPC HIPMI Parepare, Hamka Hamid, menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai skema investasi kolaboratif, bukan sekadar kegiatan sosial.
"Ini bukan hanya program sosial, tetapi kami rancang sebagai skema investasi kolaboratif. Petani tidak hanya sebagai produsen, tetapi menjadi bagian dari rantai nilai kopi itu sendiri," jelas Hamka.
Sebelum penanaman, dilakukan penandatanganan kerja sama antara BPC HIPMI Parepare dan kelompok tani. Program ini juga diawali dengan pelatihan agroforestri bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, forum diskusi kelompok (FGD), hingga proses pembibitan yang melibatkan langsung para petani.
Ketua Tim Kolaborasi Program, Muh. Ichwan Kadir, menyampaikan bahwa program ini wujud sinergi antar pengurus HIPMI. "Kami apresiasi kerja kolaborasi ketua Bidang III BPD HIPMI Sulsel, Chandra Taufan Ansar, dengan ketua Bidang III BPC HIPMI Parepare, Wirabuana Jalili, sehingga penanaman 10.000 kopi robusta terwujud menuju kemandirian komoditas kopi di Kota Parepare," ujarnya.
Sementara itu, Ketua OKK BPD HIPMI Sulsel, Yuspratman, menilai HIPMI kini hadir lebih inklusif di tengah masyarakat dan petani. Usai penanaman, Wali Kota Parepare bersama jajaran Forkopimda dan pengurus HIPMI meninjau lokasi pembibitan serta berdialog langsung dengan para petani.
BERITA TERKAIT
-
Gubernur Andi Sudirman Canangkan Kota Parepare sebagai Pusat Pertumbuhan Baru Sulsel
-
Parepare Disiapkan Jadi Role Model Nasional, Gubernur Sulsel Genjot Sistem Lingkungan Terintegrasi
-
Warga Panik Isu BBM Naik, Wali Kota Parepare: Hoaks! Stok Aman
-
Wali Kota Parepare Tasming Hamid Perkuat Basis Data dengan BPS
-
Setahun Tasming - Hermanto Memimpin Parepare, Kemiskinan Turun, Program Sosial Meluas