Redaksi
Redaksi

Sabtu, 17 Januari 2026 17:25

Trend Berubah! Ponsel Konvensional Mulai Ditinggalkan, Ini Penggantinya

Trend Berubah! Ponsel Konvensional Mulai Ditinggalkan, Ini Penggantinya

Industri elektronik global diprediksi menghadapi tekanan berat pada 2026 akibat kelangkaan chip. Harga perangkat berpotensi naik hingga 20 persen, sementara ponsel lipat diperkirakan tumbuh pesat dan mulai menggantikan HP konvensional.

MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Trend penggunaan ponsel global mulai bergeser pada 2026. Ponsel konvensional perlahan ditinggalkan konsumen seiring meningkatnya tekanan industri elektronik dan minimnya inovasi pada perangkat layar non-lipat. Di saat yang sama, ponsel lipat muncul sebagai pengganti yang kian diminati pasar.

Perubahan tren ini tidak terlepas dari tekanan besar yang dihadapi industri perangkat elektronik konsumen. Kelangkaan memori chip global berdampak langsung pada berbagai produk, termasuk ponsel. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga komponen yang diperkirakan mendorong harga ritel perangkat elektronik hingga 20 persen.

Situasi ini dinilai dapat menekan daya beli masyarakat, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Konsumen pun menjadi lebih selektif dan cenderung menunda pembelian ponsel baru, khususnya untuk perangkat yang dinilai tidak menawarkan pembaruan signifikan.

International Data Corporation (IDC) memproyeksikan pasar ponsel global berisiko turun hingga 5 persen pada 2026 dalam skenario terburuk. Salah satu penyebabnya adalah semakin panjangnya siklus penggantian ponsel, di mana konsumen memilih menggunakan perangkat mereka lebih lama.

IDC menilai ponsel konvensional dengan layar non-lipat akan mengalami tekanan paling besar. Pengapalan ponsel non-foldable diperkirakan turun 1,4 persen pada 2026, mencerminkan menurunnya minat terhadap perangkat yang dianggap stagnan dari sisi desain dan fitur.

Sebaliknya, ponsel lipat justru diproyeksikan menjadi pengganti ponsel konvensional yang paling menjanjikan. IDC memperkirakan segmen ponsel lipat akan tumbuh hingga 29,7 persen pada 2026, didorong oleh inovasi teknologi dan kehadiran model-model baru yang lebih matang.

Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, menyebut 2026 sebagai tahun penting bagi ponsel lipat. Pertumbuhan tahunan segmen ini diproyeksikan mendekati 30 persen, jauh melampaui proyeksi sebelumnya dan menunjukkan meningkatnya minat pasar terhadap perangkat inovatif.

Samsung diperkirakan akan membuka tahun 2026 dengan peluncuran Galaxy Z TriFold, ponsel lipat tiga yang ditujukan ke pasar global. Produk ini disebut akan melanjutkan momentum dari kesuksesan Galaxy Z Fold7 pada 2025. Sementara itu, Huawei dengan ponsel lipat berbasis HarmonyOS Next juga diprediksi mencatat pertumbuhan pengapalan hampir dua kali lipat.

Masuknya Apple ke segmen ponsel lipat di akhir 2026 juga dinilai akan menjadi titik balik. Wakil Presiden Perangkat Klien IDC, Francisco Jeronimo, menyebut kehadiran ponsel lipat pertama Apple berpotensi mendorong adopsi lebih luas di pasar mainstream.

Meski secara volume masih tergolong segmen khusus, ponsel lipat dinilai mampu menjadi pendorong nilai bagi produsen. Harga jual rata-rata ponsel lipat disebut bisa mencapai tiga kali lipat dibandingkan ponsel standar.

IDC memproyeksikan kategori ponsel lipat akan tumbuh dengan CAGR sebesar 17 persen hingga 2029. Sebaliknya, segmen ponsel konvensional diperkirakan tumbuh kurang dari 1 persen dalam periode yang sama.

Dari sisi sistem operasi, Android diprediksi masih akan mendominasi pasar ponsel lipat pada 2026 dengan pangsa 61 persen. Apple diproyeksikan meraih 22 persen, sementara HarmonyOS Next mencapai 17 persen.

Perubahan ini menandai pergeseran besar tren industri ponsel global. Di tengah tekanan biaya, perubahan perilaku konsumen, dan kebutuhan inovasi, ponsel lipat kini dipandang sebagai pengganti utama ponsel konvensional yang mulai ditinggalkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.