MAROS, BUKAMATANEWS — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 115 terus mendorong penguatan kapasitas generasi muda desa melalui program pengembangan kewirausahaan. Salah satunya diwujudkan lewat kegiatan bertajuk Pengembangan Pola Pikir Kewirausahaan Berbasis Manajemen SDM dan Manajemen Operasional bagi Santri Kelas X dan XI di Pondok Pesantren MA DDI Cambalagi, Desa Tupabiring, Kabupaten Maros.
Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan pondok pesantren tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengabdian mahasiswa KKN Unhas 115 yang berlangsung sejak 22 Desember 2025 hingga 14 Januari 2026.
Program ini menyasar santri kelas X dan XI sebagai upaya menanamkan pola pikir entrepreneur sejak dini di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan, khususnya di wilayah pedesaan.
Koordinator program dari Mahasiswa KKN Unhas 115, Muh Iftitah S dan Siti Nur Atika Susilo, menegaskan bahwa kewirausahaan perlu dipahami bukan sekadar soal berdagang, melainkan tentang cara berpikir dan mengelola potensi.
"Kami ingin para santri memahami bahwa wirausaha itu dimulai dari pola pikir. Dengan manajemen sumber daya manusia dan manajemen operasional yang sederhana, mereka sudah bisa melihat peluang usaha dari lingkungan sekitar pesantren dan desa," ujar Muh Iftitah, Sabtu, 17 Januari 2026.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN menyampaikan materi secara interaktif melalui diskusi terbuka dan sesi penjaringan ide bisnis. Santri dibekali pemahaman mengenai konsep dasar kewirausahaan, pengelolaan tim kerja, pengaturan proses produksi, hingga efisiensi penggunaan sumber daya.
Suasana kegiatan berlangsung dinamis. Para santri aktif berdialog dan mengaitkan materi dengan realitas di Desa Tupabiring. Antusiasme semakin terlihat saat sesi penjaringan ide usaha, ketika santri diminta mengidentifikasi potensi lokal sebagai peluang bisnis.
Menurut Siti Nur Atika Susilo, proses tersebut menjadi titik penting bagi santri untuk menyadari bahwa peluang usaha tidak selalu menuntut modal besar. "Justru dari masalah dan kebutuhan sederhana di sekitar mereka, ide usaha bisa tumbuh dan dikembangkan," katanya.
Beragam gagasan pun muncul, mulai dari pemanfaatan hasil pertanian dan rumput laut, pengolahan makanan sederhana, hingga usaha jasa berbasis keterampilan individu. Salah satu santri kelas X, Putra, mengemukakan ketertarikannya mengolah sango-sango atau rumput laut yang melimpah di lingkungannya menjadi produk bernilai ekonomi.
"Saya tertarik membuat usaha pengolahan sango – sango (rumput laut) karena di lingkungan saya terdapat banyak sango – sango yang bisa diolah dan dimanfaatkan," ujar Putra, santri kelas X.
Mahasiswa KKN Unhas 115 berharap program ini dapat menjadi pemantik berkelanjutan bagi tumbuhnya semangat kewirausahaan di lingkungan pesantren dan masyarakat Desa Tupabiring.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan mampu melahirkan generasi santri yang tidak hanya unggul secara akademik dan spiritual, tetapi juga mandiri, kreatif, serta siap berkontribusi dalam pembangunan ekonomi desa. (*)