Redaksi
Redaksi

Sabtu, 10 Januari 2026 17:15

Suhu  Tembus 1,75°C Lampaui Batas Aman , Bumi Punya Sisa Waktu 10 Tahun?

Suhu Tembus 1,75°C Lampaui Batas Aman , Bumi Punya Sisa Waktu 10 Tahun?

Suhu Bumi menembus 1,75 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri pada Januari 2025, menandai dekade paling kritis bagi umat manusia dalam menghadapi krisis perubahan iklim global.

 BUKAMATANEWS — Suhu Bumi dilaporkan telah menembus angka 1,75 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri pada Januari 2025. Fakta tersebut terungkap dalam laporan Layanan Perubahan Iklim Copernicus (Copernicus Climate Change Service/C3S) yang diimplementasikan oleh Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa.

Temuan ini sekaligus mengonfirmasi peringatan Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) yang sebelumnya memprediksi bahwa Bumi akan melampaui ambang batas pemanasan global 1,5 derajat Celcius dalam satu dekade ke depan. Batas 1,5 derajat Celcius selama ini dianggap sebagai titik kritis, di mana dampak pemanasan global berpotensi menjadi tidak dapat dipulihkan.

IPCC menegaskan, kondisi ini menempatkan umat manusia pada dekade paling menentukan dalam sejarah. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mengingatkan bahwa dunia harus segera melakukan pengurangan emisi gas rumah kaca secara drastis untuk menahan laju krisis iklim.

Menurut IPCC, manusia sejatinya telah memiliki berbagai perangkat untuk menghadapi perubahan iklim, mulai dari teknologi, peralatan, hingga sumber pendanaan. Namun, tantangan terbesar justru terletak pada lemahnya komitmen politik global.

“Satu-satunya yang kurang adalah kemauan politik yang kuat,” ujar Ketua IPCC Lee Hoesung, dikutip dari AFP.

Dampak pemanasan global kini kian dirasakan secara nyata oleh penduduk dunia melalui cuaca ekstrem yang semakin sering dan intens. Ilmuwan dari Imperial College London, Friederike Otto, menyebut bahwa kondisi ini akan membawa konsekuensi jangka panjang yang mengkhawatirkan.

“Tahun paling hangat yang kita alami saat ini akan menjadi tahun terdingin di satu generasi,” ujarnya.

Melampaui ambang 1,5 derajat Celcius dipandang sebagai sinyal percepatan kepunahan spesies, meningkatnya gagal panen, serta munculnya titik kritis perubahan sistem iklim atau tipping point, seperti kematian terumbu karang dan mencairnya es di wilayah kutub.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut memperingatkan negara-negara maju agar mempercepat target netral karbon dari 2050 menjadi 2040 demi “menjinakkan bom iklim” yang kian mengancam.

“Manusia berdiri di atas lapisan es yang tipis, dan es itu mencair dengan sangat cepat,” kata Guterres.

Laporan IPCC juga menyebutkan bahwa jika pemanasan global mencapai 1,8 derajat Celcius, sekitar setengah populasi manusia di dunia akan hidup dalam kondisi panas dan kelembaban ekstrem pada tahun 2100. Kawasan yang paling terdampak meliputi Asia Tenggara, sebagian Brasil, serta Afrika bagian barat.

Sementara itu, Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) mencatat Januari 2025 menjadi bulan ke-18 dari 19 bulan terakhir dengan suhu permukaan udara global lebih dari 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri. Analisis global WMO menunjukkan bahwa tahun 2024 kemungkinan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat.

Meski satu tahun melampaui ambang 1,5 derajat Celcius belum berarti kegagalan target jangka panjang Perjanjian Paris, WMO menegaskan bahwa setiap kenaikan suhu, sekecil apa pun, memiliki dampak besar. Sepuluh tahun terakhir bahkan tercatat sebagai sepuluh tahun terpanas dalam sejarah pengamatan iklim modern.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.