Dari S1 hingga Doktor Spesialis, 5.750 Beasiswa LPDP Disiapkan
15 Januari 2026 21:34
Mahfuz Sidik menilai dunia tengah memasuki fase paling tidak terduga pasca gejolak politik Venezuela dan menyerukan kewaspadaan Indonesia menghadapi dinamika geopolitik global.
JAKARTA, BUKAMATANEWS — Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Mahfuz Sidik, menilai dinamika politik global tengah memasuki fase paling tidak terduga dalam sejarah modern. Ia mengingatkan pemerintah Indonesia agar mencermati perkembangan geopolitik internasional yang kian memanas dan penuh risiko.
Pernyataan tersebut disampaikan Mahfuz saat menjadi narasumber dalam kajian bertajuk Pergeseran Peradaban dan Politik Global yang digelar pada Jumat (9/1/2026) malam.
Menurut Mahfuz, berbagai peristiwa global yang terjadi belakangan ini menunjukkan bahwa tatanan dunia tengah bergeser secara cepat dan radikal. Ia menilai gejolak politik tidak akan berhenti pada satu kawasan saja, melainkan berpotensi merembet ke berbagai belahan dunia.
“Banyak peristiwa yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan kini benar-benar terjadi. Kita tidak tahu kejutan apa lagi yang akan muncul ke depan,” ujar Mahfuz.
Ia menyoroti meningkatnya ketegangan di sejumlah negara, termasuk di Timur Tengah dan Amerika Latin. Fenomena demonstrasi besar yang berujung kekerasan serta upaya perubahan rezim dinilai menjadi bagian dari skenario politik global yang lebih luas.
Mahfuz juga menyinggung kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dinilainya semakin agresif dan unilateral. Langkah Washington yang kerap mengabaikan mekanisme lembaga internasional dianggap sebagai sinyal melemahnya peran tatanan global berbasis multilateralisme.
Menurutnya, dunia kini bergerak menuju fase baru di mana kekuatan besar tidak lagi tunduk pada aturan bersama, melainkan mengedepankan logika kawan dan lawan.
“Tidak ada lagi istilah netral. Yang ada hanyalah sekutu atau lawan. Ini menjadi tantangan serius bagi stabilitas global,” tegasnya.
Dalam konteks tersebut, Mahfuz menilai Perserikatan Bangsa-Bangsa perlu melakukan reformasi menyeluruh agar tetap relevan menghadapi perubahan geopolitik yang semakin kompleks. Ia juga menekankan pentingnya mendorong sistem global multipolar sebagai penyeimbang dominasi kekuatan tertentu.
Lebih jauh, Mahfuz mengajak negara-negara berpenduduk Muslim untuk membangun kesadaran kolektif dan mengonsolidasikan kekuatan politiknya. Menurutnya, lemahnya posisi politik negara-negara Islam di kancah global harus segera direspons dengan kerja sama yang lebih erat.
“Konsolidasi politik dunia Islam menjadi kebutuhan mendesak untuk menghadapi dinamika global dan menjaga keseimbangan peradaban dunia,” pungkasnya.
15 Januari 2026 21:34
15 Januari 2026 20:49
15 Januari 2026 20:15
15 Januari 2026 09:56
15 Januari 2026 10:06
15 Januari 2026 10:18
15 Januari 2026 15:11
15 Januari 2026 07:55