61 Ribu Warga Aceh Tengah Masih Terisolir, Logistik Menipis dan Akses Darat Terputus
BNPB merilis data terbaru bencana di Sumatra yang menelan 916 korban jiwa dan 274 warga masih hilang. Upaya pencarian diperluas sementara pemerintah menetapkan langkah darurat penanganan.
BUKAMATANEWS— Situasi darurat masih menyelimuti Kabupaten Aceh Tengah. Sebanyak 61.983 warga yang tersebar di 97 desa di tujuh kecamatan hingga kini masih terisolir dengan kondisi logistik yang semakin kritis. Akses darat menuju wilayah-wilayah tersebut masih terputus total akibat bencana yang melanda beberapa hari terakhir.

Kepala Dinas Kominfo Aceh Tengah, Mustafa Kamal, menyampaikan bahwa wilayah yang terisolir sangat sulit dijangkau karena jalur darat belum dapat dilalui. Sejauh ini, distribusi bantuan hanya bisa dilakukan melalui jalur udara.
“Daerah terisolir kekurangan logistik, bantuan belum dapat disalurkan ke semua lokasi. Secara kabupaten kita terkurung, sementara itu ada 97 kampung yang belum bisa diakses lewat darat dari Takengon,” ujar Mustafa, Minggu (7/12).
Bantuan Mengandalkan Drop dari Udara
Bantuan dari luar daerah selama ini hanya mampu menjangkau Takengon—ibu kota Aceh Tengah—sebelum kemudian didistribusikan melalui Bandara Rembele untuk di-drop ke titik-titik pengungsian.
Namun, metode itu tidak cukup cepat untuk memenuhi kebutuhan warga di 97 desa yang masih terisolasi. Ribuan warga kini mengandalkan bantuan terbatas yang bisa dikirim lewat udara, sementara cuaca buruk kerap menghambat proses penerbangan.
Akses Dikebut Pakai Alat Berat
Pemerintah daerah terus mengerahkan alat berat untuk membuka jalur yang tertutup material banjir dan longsor. Pembukaan akses dilakukan di sejumlah kecamatan, termasuk Bintang, Rusip Antara, Celala, dan Linge, agar jalur menuju Takengon dapat kembali terbuka.
“Alat berat milik Pemda juga masih bekerja membuka akses ke 97 kampung tersebut,” kata Mustafa.
Namun proses ini membutuhkan waktu panjang karena medan yang rusak parah serta cuaca yang tidak menentu.
BBM, Gas, dan Pangan Mulai Habis
Selain akses darat, persoalan terbesar lainnya adalah ketersediaan BBM. Pemerintah daerah kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk mobilitas kendaraan yang masih bisa menjangkau beberapa wilayah.
Mustafa menyebut bahwa pasokan gas LPG juga sudah habis, sementara kebutuhan pangan, obat-obatan, dan kebutuhan balita berada pada kondisi kritis.
“BBM dan gas habis, bahan pangan sudah kritis, obat-obatan masih kritis dan kebutuhan balita juga sudah kritis,” ujarnya.
Situasi ini membuat ribuan warga di pedalaman Aceh Tengah harus bertahan dengan kondisi serba terbatas, menunggu dibukanya akses dan kedatangan bantuan tambahan dari pemerintah pusat maupun lembaga kemanusiaan.
