Redaksi
Redaksi

Jumat, 05 Desember 2025 20:01

Sarat Pesan HAM, Menteri HAM Apresiasi Film *Pangku* dan Ingatkan Pentingnya Kehadiran Negara

Sarat Pesan HAM, Menteri HAM Apresiasi Film *Pangku* dan Ingatkan Pentingnya Kehadiran Negara

Film Pangku mendapat apresiasi dari Menteri HAM Natalius Pigai karena berhasil menyoroti kehidupan perempuan marjinal, kemiskinan struktural, dan pentingnya kehadiran negara dalam melindungi kelompok rentan.

JAKARTA, BUKAMATANEWS — Film Pangku mendapat apresiasi besar dari Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Natalius Pigai, karena dinilai berhasil menyoroti realitas keras yang dialami perempuan marjinal. Film karya sutradara Reza Rahadian itu menampilkan potret eksploitasi, kemiskinan struktural, hingga ketimpangan sosial yang masih dialami masyarakat kelas bawah di Indonesia.

Pigai menegaskan bahwa Pangku tidak sekadar karya seni, tetapi cermin dari kondisi nyata yang selama ini belum sepenuhnya tersentuh negara. Menurutnya, film ini menggambarkan bagaimana perempuan seperti Sartika—tokoh utama—dipaksa bekerja dalam situasi yang menekan demi bertahan hidup.

“Film ini menggambarkan kehidupan nyata masyarakat. Kemiskinan struktural dan kondisi geografis membuat masyarakat sulit berkembang. Negara mestinya hadir dan memastikan tidak ada lagi warga yang terjebak dalam situasi kepepet seperti Sartika,” ujar Pigai saat menghadiri bedah film di Djakarta XXI, Kamis (04/12).

Dalam film tersebut, Sartika digambarkan mengalami tekanan fisik dan emosional ketika dipaksa bekerja di warung kopi milik Bu Maya. Adegan itu, kata Pigai, menunjukkan betapa lemahnya perlindungan negara terhadap perempuan rentan yang akhirnya terseret dalam situasi yang mengarah pada praktik perdagangan manusia.

Momentum Peringatan Hari HAM Sedunia tahun ini, lanjut Pigai, menjadi pengingat bahwa pemerintah harus lebih aktif dalam melindungi kelompok rentan. KemenHAM berkomitmen memperkuat upaya negara agar masyarakat kecil benar-benar merasakan kehadiran negara.

Sutradara Pangku, Reza Rahadian, menjelaskan bahwa film ini diangkat dari kisah nyata seorang ibu yang terpaksa bertahan hidup dengan cara apa pun. Ia ingin *Pangku* menghadirkan refleksi sosial, bukan sekadar menilai benar atau salah.

“Ini surat cinta bagi para ibu yang berjuang dalam senyap. Banyak dari mereka bekerja dalam kondisi batin yang tidak selalu dimengerti orang lain,” kata Reza.

Pengamat film sekaligus pemerhati HAM, Adhie Massardi, juga memberikan apresiasi. Menurutnya, Pangku berhasil menampilkan potret kemiskinan Indonesia secara jujur, sekaligus menjadi kritik terhadap minimnya intervensi negara dalam memperbaiki kehidupan masyarakat miskin.

“Bangsa ini diberi anugerah yang besar, tapi negara sering abai. Akibatnya masyarakat berdamai dengan penderitaan yang semestinya tidak mereka alami,” ujar Adhie.

Plt. Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama KemenHAM RI, M. Dimas Saudian, menambahkan bahwa film ini relevan dengan semangat Hari HAM karena mengingatkan bahwa isu HAM adalah persoalan sehari-hari yang dekat dengan masyarakat.

Pangku sendiri mengangkat perjalanan Sartika, perempuan hamil yang merantau ke wilayah Pantura dan terjebak dalam praktik kopi pangku demi bertahan hidup. Film berdurasi 1 jam 44 menit ini sudah mendapat perhatian luas, termasuk empat penghargaan di Busan International Film Festival (BIFF) dan tujuh nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2025.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Berita Populer