MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Cakupan imunisasi di sejumlah kabupaten kota di Sulsel masih rendah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sulsel per 23 November 2025, ada tiga daerah di Sulsel yang masih rendah cakupan imunisasi bayi lengkapnya. Masing-masing, Toraja Utara 37,99 persen, Enrekang 33,61 persen, dan Tana Toraja 31,19 persen. Sedangkan untuk Provinsi Sulsel secara keseluruhan, masih di angka 46,13 persen, sementara target di Bulan November 66,92 persen.
Tak hanya cakupan imunisasi bayi lengkap, cakupan imunisasi PCV2 di tingkat provinsi juga belum mencapai target 66,92 persen di Bulan November. Dimana, cakupannya baru di angka 46,13 persen.
Khusus imunisasi PCV2 ini, ada empat daerah yang cakupannya masih sangat rendah. Yakni Sinjai 30,80 persen, Palopo 30,36 persen, Tana Toraja 27,46 persen, Barru 26,75 persen, dan Enrekang 26,68 persen.
Kondisi yang sama juga terjadi pada imunisasi Rota 3. Di tingkat provinsi cakupannya baru mencapai 35,04 persen, sedangkan target 66,92 persen. Terdapat 12 daerah yang cakupannya masih sangat rendah. Yakni, Bulukumba, Luwu Timur, Luwu Utara, Wajo, Toraja Utara, Jeneponto, Selayar, Barru, Sinjai, Enrekang, Palopo, dan Tana Toraja.
Cakupan yang cukup menggembirakan terjadi pada imunisasi baduta lengkap. Dimana, untuk tingkat provinsi cakupannya mencapai 61,11 persen, meskipun belum mencapai target 73,33 persen. Ada dua daerah yang cakupannya rendah, yakni Tana Toraja 33,47 persen dan Enrekang 31,84 persen.
Data tersebut disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sulsel, Muhammad Yusri Yunus, pada Workshop Penguatan Program Imunisasi Melalui Kampanye Media dan Penguatan Liputan Jurnalis, yang diselenggarakan Unicef Indonesia bekerjasama dengan AJI Makassar, di Hotel Grand Tulip, Makassar, Sabtu, 29 November 2025.
Yusri berharap, daerah-daerah yang masih rendah cakupannya ini bisa melakukan percepatan, sehingga bisa tercipta herd immunity atau kekebalan kelompok.
"Apabila cakupan imunisasi tinggi dan merata, dapat membentuk kekebalan kelompok dan melindungi mereka yang rentan," kata Yusri.
Ia mengungkapkan, ada sejumlah tantangan yang dihadapi dalam imunisasi ini. Seperti ketersediaan vaksin yang kadang mengalami kekosongan, penolakan imunisasi rutin atau imunisasi ganda, anggaran distribusi terbatas, hingga cakupan yang tidak merata di satu kabupaten.
"Ketakutan orang tua karena berita hoaks juga menjadi kendala tersendiri," ungkapnya. (*)
BERITA TERKAIT
-
Dinas Kesehatan Sulsel Siagakan Tim Medis di Pos Terpadu Nataru 2025-2026
-
AJI Makassar dan UNICEF Indonesia Perkuat Kapasitas Jurnalis Hasilkan Pemberitaan Akurat Tentang Imunisasi
-
Festival Media 2025, Seruan Perlawanan atas Pembungkaman Pers Menggema di Benteng Ujung Pandang
-
Pasca Redistribusi Nakes, Kadis Kesehatan Pastikan Layanan Rumah Sakit Tetap Berkualitas
-
Instalasi Gizi Rumah Sakit dan Puskesmas se Sulsel Wajib Kantongi Sertifikasi Halal