Redaksi
Redaksi

Senin, 24 November 2025 16:56

Ekonomi Jepang Melemah, Risiko Stagflasi Mengintai dan Indonesia Diminta Waspada

Ekonomi Jepang Melemah, Risiko Stagflasi Mengintai dan Indonesia Diminta Waspada

Mahasiswa Jurnalistik UIN Alauddin Makassar melakukan kunjungan edukatif ke salah satu stasiun TV di Makassar untuk memperdalam ilmu broadcasting, belajar langsung proses produksi berita, dan berdiskusi dengan produser serta presenter TV.

MAKASSAR,BUKAMATANEWS - Kondisi perekonomian Jepang memasuki fase yang mengkhawatirkan. Pertumbuhan ekonomi yang kembali terkontraksi, inflasi yang merangkak naik, hingga memanasnya hubungan diplomatik dengan China membuat situasi Negeri Sakura kian kompleks.

Data terbaru menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang pada kuartal III-2025 turun 1,8% secara tahunan dan melemah 0,4% secara kuartalan. Ini menjadi kontraksi pertama setelah enam kuartal ekspansi. Penyebab utamanya datang dari melemahnya permintaan domestik, penurunan investasi perumahan hingga lebih dari 32% YoY, serta private demand yang anjlok 1,8%.

Di sisi eksternal, ekspor Jepang juga merosot 4,5% karena permintaan global melemah dan tekanan tarif dari Amerika Serikat. Konsumsi rumah tangga hanya naik 0,1%, menandakan daya beli yang belum pulih. Belanja pemerintah menjadi satu-satunya penopang dengan pertumbuhan 2,2%.

Inflasi Jepang Naik, Ancaman Stagflasi Semakin Nyata

Di tengah penurunan PDB, inflasi inti Jepang justru melonjak ke 3% pada Oktober, menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan.

Kenaikan harga pangan paling mencolok:

* Makanan non-perishable naik 7,2%

* Kopi melesat 53,4%

* Cokelat naik 36,9%

* Harga beras melonjak 40,2% YoY

Kenaikan ini menimbulkan kekhawatiran terjadinya stagflasi, kondisi yang sangat dihindari Jepang setelah puluhan tahun berjuang keluar dari deflasi.

Stimulus Jumbo PM Takaichi dan Kekhawatiran Utang

Perdana Menteri Sanae Takaichi menggulirkan stimulus besar senilai 21,3 triliun yen—terbesar sejak pandemi. Isinya mencakup subsidi energi, penghapusan sementara pajak bensin, bantuan tunai 7.000 yen per rumah tangga, hingga penguatan industri perkapalan.

Namun stimulus ini memantik kekhawatiran baru karena sebagian didanai dari penerbitan obligasi, sementara utang Jepang sudah melampaui 200% PDB—tertinggi di antara negara maju. Pasar obligasi Jepang merespons negatif, ditandai aksi jual besar dan lonjakan yield 10-year JGB ke 1,817%, tertinggi sejak 2008. Nilai tukar yen juga tertekan, melemah ke level terendah dalam 10 bulan terakhir.

Hubungan dengan China Memanas, Pariwisata Terancam

Ketegangan diplomatik meningkat setelah pernyataan PM Takaichi terkait Taiwan, membuat China mengimbau warganya tidak bepergian ke Jepang. Dampaknya langsung terasa di pasar saham: sektor pariwisata anjlok 3%.

Ini menjadi ancaman besar karena pada 2025 turis China mencapai 5,7 juta orang, atau 23% dari total wisatawan. Ekonom Nomura memperkirakan ketegangan ini berpotensi menggerus PDB Jepang hingga 1,79 triliun yen dalam setahun.

Pelemahan Jepang tidak hanya menjadi masalah domestik, tetapi juga dapat merembet ke negara mitra, termasuk Indonesia.

Ekspor Indonesia Berisiko Tertekan

 Dalam 10 tahun terakhir, nilai ekspor Indonesia ke Jepang berada di kisaran US$16–25 miliar. Tekanan ekonomi Jepang dan inflasi pangan yang melonjak membuat permintaan impor berpotensi menurun, termasuk sektor perikanan—salah satu komoditas ekspor premium Indonesia ke Jepang.

Samurai Bonds Bisa Jadi Lebih Mahal

  Indonesia rutin menerbitkan Samurai Bonds kepada investor Jepang sebagai sumber pembiayaan APBN. Total penerbitan hingga Mei 2025 mencapai 1,266 triliun yen.

  Namun, lonjakan yield JGB dan kondisi pasar Jepang yang tidak stabil berpotensi membuat biaya penerbitan Samurai Bonds semakin tinggi. Investor Jepang juga cenderung menahan dana di dalam negeri ketika ketidakpastian meningkat.

Dengan dinamika ini, pemerintah Indonesia perlu cermat memilih waktu penerbitan, memperpendek tenor, atau menyiapkan alternatif pendanaan lain agar tidak terbebani biaya utang yang semakin mahal.

Jepang Bermasalah, Indonesia Harus Siaga

Kontraksi ekonomi, tekanan inflasi pangan, risiko stagflasi, hingga tensi geopolitik dengan China membuat Jepang berada pada salah satu fase tersulit dalam satu dekade. Dampaknya dapat menyentuh Indonesia lewat perdagangan, investasi, hingga keputusan pasar obligasi.

Kondisi global yang tidak stabil menjadi sinyal penting bagi pemerintah Indonesia untuk menjaga ketahanan ekonomi, memperkuat diversifikasi pasar ekspor, serta mengatur strategi pembiayaan negara secara hati-hati.