Hujan dan Angin Kencang, Pohon Tumbang Timpa Sejumlah Kendaraan di Jalan Tupai Makassar
01 Februari 2026 14:50
Kondisi SMA Negeri 23 Makassar memprihatinkan. Sejumlah ruang kelas rusak parah hingga plafon ambruk, memaksa siswa belajar di mushola dan teras sekolah. Kepala sekolah berharap pemerintah segera turun tangan sebelum terjadi hal yang membahayakan keselamatan siswa.
MAKASSAR, BUKAMATANEWS — Di balik semangat belajar ratusan siswa SMA Negeri 23 Makassar, tersimpan kisah pilu tentang kondisi sekolah yang nyaris tak layak huni. Sejak pertama kali digunakan pada tahun 2021, bangunan sekolah yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea itu kini tampak memprihatinkan — plafon ambruk, dinding gipsum rusak, hingga atap bocor di sejumlah ruang kelas.
Pantauan Bukamatanews di lokasi menunjukkan, beberapa ruang belajar bahkan tak lagi bisa digunakan. Di musim hujan, genangan air masuk ke dalam kelas, memaksa para siswa belajar di mushola atau teras sekolah.
“Kalau hujan, air masuk sampai ke meja siswa. Ada tiga ruang kelas yang benar-benar tidak bisa dipakai,” ungkap Syahrudin, Kepala SMA Negeri 23 Makassar, saat ditemui Kamis (16/10/2025).

Lebih memprihatinkan lagi, balok kayu penyangga atap mulai lapuk. Setiap kali hujan deras disertai angin kencang, para guru terpaksa mengevakuasi siswa keluar ruang kelas karena khawatir atap ambruk.
“Kadang kami kosongkan kelas dan anak-anak belajar online. Kami takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tambah Syahrudin.
Ironisnya, bangunan yang digunakan SMA 23 Makassar ternyata bukan milik sekolah, melainkan berstatus pinjaman. Meski Dinas Pendidikan Sulsel telah berupaya mengurus proses hibah ke pemerintah pusat, hingga kini belum ada kepastian.
“Kami sudah mendampingi Pak Kadis ke Jakarta untuk mengurusnya, tapi sampai sekarang belum ada keputusan,” jelas Syahrudin.
Saat ini, SMA Negeri 23 Makassar menampung 912 siswa dalam 24 kelas, dengan kerusakan paling parah terjadi di lantai dua bangunan. Kondisi tersebut membuat proses belajar tidak nyaman sekaligus berisiko bagi keselamatan siswa dan guru.
Syahrudin berharap pemerintah segera turun tangan sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
“Kami hanya berharap ada perhatian dan langkah cepat dari pemerintah. Ini soal keselamatan anak-anak,” ujarnya menutup percakapan.
MAWAN
01 Februari 2026 14:50
01 Februari 2026 10:33
01 Februari 2026 10:24
31 Januari 2026 21:37
01 Februari 2026 10:33
01 Februari 2026 10:24
01 Februari 2026 14:50