Redaksi : Senin, 15 September 2025 21:46
Puluhan mahasiswa mengubah sebuah truk kontainer menjadi panggung perlawanan, menyuarakan tuntutan pencopotan Rektor UNM, Prof. Karta Jayadi, yang terdakwa melakukan pelecehan verbal terhadap seorang dosen perempuan.

MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Terdengar riuh rendah orasi dan bau asap pembakaran ban memenuhi udara di depan Menara Pinisi, kampus utama Universitas Negeri Makassar (UNM), pada Senin (15/9/2025) sore. Puluhan mahasiswa tak hanya memadati jalan; mereka mengubah sebuah truk kontainer menjadi panggung perlawanan, menyuarakan tuntutan pencopotan Rektor UNM, Prof. Karta Jayadi, yang terdakwa melakukan pelecehan verbal terhadap seorang dosen perempuan.

Aksi ini tidak biasa. Dua kelompok mahasiswa dari aliansi berbeda bergerak secara simultan memblokir dua jalur jalan utama di Jalan AP Pettarani. Spanduk-spanduk provokatif dibentangkan, dengan tulisan yang keras: "Copot Rektor, Polda Jangan Masuk Angin", "Mahasiswa Tidak Butuh Rektor Lale", dan desakan agar Kemendikbudristek turun tangan.

Yang menarik, aksi ini dipelopori oleh Aliansi Mahasiswa Olahraga dan Kesehatan—biasanya identik dengan dinamika lapangan, kini menjadi penggerak unjuk rasa di jalanan. Mereka tidak hanya berorasi, tetapi juga melakukan aksi simbolik pembakaran ban yang menyiratkan kegeraman yang mendalam.

Dwiki (22), koordinator lapangan aksi, menegaskan bahwa tuntutan mereka jelas: mendesak pemberhentian sang rektor dan meminta transparansi dari kepolisian dalam menangani kasus ini. Aksi yang dimulai pukul 15.55 WITA itu menjadi penanda eskalasi konflik kampus yang telah menyedot perhatian publik.

Dengan aksi teatrikal dan blokade truk sebagai panggung, mahasiswa UNM tidak hanya menyuarakan protes, tetapi juga menunjukkan bahwa isu keadilan dan moralitas kepemimpinan kampus telah mencapai titik didih.