Dewi Yuliani : Minggu, 07 September 2025 15:25
Jelang Haul ke-21 Jenderal M Jusuf yang jatuh pada hari Senin, 8 September 2025, Yayasan Islamic Center Al Markaz menggelar dialog mengenang ketokohan jendral asal Sulawesi Selatan tersebut.

MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Jelang Haul ke-21 Jenderal M Jusuf yang jatuh pada hari Senin, 8 September 2025, Yayasan Islamic Center Al Markaz menggelar dialog mengenang ketokohan jendral asal Sulawesi Selatan tersebut.

Sosok yang dikenal sebagai negarawan, prajurit sejati, dan birokrat berintegritas tinggi ini dinilai sebagai figur langka yang tidak hanya berjasa secara historis, tetapi juga menjadi panutan moral dan kepemimpinan, khususnya bagi generasi Bugis Makassar.

Sosok Langka dan Luar Biasa

Dalam dialog yang mengangkat tema Jejak Keteladanan Jendral M Jusuf Dalam Kepemimpinan dan Keteladanan ini menghadirkan beberapa narasumber. Diantaranya Prof Amran Razak, Ketua Program Studi Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Unhas, Guru Besar UNM Prof Aris Munandar dan dari unsur TNI yang mewakili Pangdam XIV Pamen Ahli Bidang Il Pengtek dan Lingkungan Hidup Kodam XIV/Hasanuddin Indra Kurnia.

Akademisi dan budayawan Sulsel, Prof Amran Razak menegaskan, Jenderal M Jusuf merupakan contoh nyata pemimpin berkelas nasional yang tetap berpijak kuat pada nilai-nilai budaya lokal.

"Beliau bangsawan, tentara, birokrat, sekaligus pelobi ulung. Ini kombinasi yang sangat jarang kita temukan dalam sejarah bangsa kita, apalagi dari Bugis Makassar," ungkap Prof Amran pada Diskusi 0ublik Haul ke-21 Jendral M Jusuf, di teras depan Masjid Al Markaz.

Ia menambahkan bahwa dalam Budaya Bugis, kemampuan berdamai dan melobi dengan cara yang bermartabat adalah kualitas tinggi. Sosok Jenderal Jusuf—seperti halnya Jusuf Kalla—adalah bukti bahwa orang Bugis bisa menjadi pelobi dan peredam konflik nasional secara elegan dan bermoral.

Tak hanya itu, Prof Amran juga menyoroti dedikasi Jenderal Jusuf saat menjabat sebagai Menteri Perindustrian yang banyak memberi dampak langsung bagi pembangunan daerah, seperti pembangunan PLTU, Kawasan Industri Makassar (KIMA), dan Semen Tonasa.

"Setelah beliau, banyak menteri datang dan pergi, tapi tidak banyak yang benar-benar memberikan sesuatu yang konkret untuk daerahnya," tegasnya.

Sementara itu, Kolonel Inf. Indra Kurnia, Pamen Ahli Bidang Ilpengtek dan Lingkungan Hidup Kodam XIV/Hasanuddin, menyebut bahwa nama Jenderal Jusuf masih sangat harum di kalangan prajurit hingga hari ini.

"Beliau kami sebut sebagai bapaknya para prajurit. Istilah blusukan sudah ada sejak zaman Jenderal Jusuf, hanya saja konteksnya lebih ke meninjau barak dan menyapa prajurit," ujar Kolonel Indra.

Jenderal Jusuf dikenal hidup sederhana, menolak gratifikasi, bahkan saat sudah pensiun tidak meminta apa pun. Hal ini menurutnya adalah bentuk integritas yang harus dimiliki oleh setiap prajurit.

"Nilai-nilai kejujuran, tidak mudah diombang-ambing, dan anti-KKN menjadi warisan moral dari beliau yang masih relevan hingga kini," imbuhnya.

Aris Munandar, yang juga Mantan rektor UNM menguraikan tujuh kualitas utama Jenderal M Jusuf yang patut diwarisi oleh generasi bangsa.

Pertama, Nasionalisme tinggi — terlibat aktif dalam momen penting seperti Supersemar.

Kedua, Kepemimpinan berpihak kepada bawahan — peduli terhadap kesejahteraan prajurit, merakyat melalui program ABRI Manunggal Rakyat.

Ketiga, religius membangun masjid Al-Markaz sebagai kontribusi spiritual. Keempat, kerendahan hati, tetap rendah hati meski menduduki posisi tinggi.

Kelima, netralitas profesional, menjaga netralitas TNI dari kepentingan politik. Keenam, kepribadian Bugis-Makassar tegas, jujur, adil, dan bebas dari praktik KKN.

Relevansi Kepemimpinan Masa Kini

Di tengah situasi politik nasional yang kembali menghadirkan tokoh militer sebagai Presiden, Prof. Amran berharap kepemimpinan militer di era kini mampu meneladani Jenderal Jusuf.

"Kita berharap Pak Prabowo bisa banyak belajar dari gaya kepemimpinan Jenderal Jusuf, terlebih banyak figur Bugis seperti Sapra Syamsudin yang punya jiwa sejiwa dengan beliau," pungkasnya. (*)