Ekonomi Masyarakat Kelas Menengah RI Tertekan, Transaksi QRIS Jadi Bukti
Transaksi QRIS menurun di pertengahan 2024 jadi indikator turunnya daya beli kelas menengah Indonesia. Tekanan ekonomi dorong jutaan orang turun kelas
BUKAMATANEWS - Tekanan terhadap kelas menengah Indonesia semakin terasa. Ketidakpastian ekonomi global, peningkatan pemutusan hubungan kerja (PHK), serta tingginya inflasi berdampak pada penurunan daya beli masyarakat.

Salah satu indikator penurunan daya beli terlihat dari menurunnya penggunaan transaksi digital, khususnya melalui sistem pembayaran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di berbagai bank nasional.
Dilansir dari CNBC , transaksi QRIS di Bank Jatim mengalami penurunan sejak pertengahan 2024. Pada Juni, total transaksi merchant QRIS mencapai Rp176,30 miliar, namun turun drastis menjadi Rp127,91 miliar pada Juli dan hanya sedikit meningkat di Agustus menjadi Rp130,51 miliar.
Meski secara tahunan masih menunjukkan tren kenaikan dibanding Januari 2024 yang hanya Rp76,11 miliar, penurunan berturut-turut selama pertengahan tahun menandai mulai melemahnya konsumsi, seiring dengan tren deflasi inti yang berlangsung sejak Mei.
Di sisi lain, penggunaan layanan perbankan digital seperti aplikasi dan kartu debit masih menunjukkan pertumbuhan, meskipun tidak cukup mengimbangi penurunan nilai transaksi.
Sementara itu, Bank Oke Indonesia melaporkan penurunan tabungan sekitar 12 persen secara tahunan hingga awal September 2024. Kondisi ini diduga akibat pergeseran pola konsumsi masyarakat, yang mulai fokus pada kebutuhan dasar ketimbang pengeluaran hiburan atau gaya hidup.
Hal serupa juga diungkapkan oleh manajemen Bank BJB. Meski frekuensi transaksi elektronik masih meningkat, nilai uang yang dibelanjakan menurun. Misalnya, pengeluaran harian yang sebelumnya mampu membeli sepuluh barang kini hanya cukup untuk delapan atau sembilan barang dengan nominal sama.
Fenomena ini menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat telah terdampak inflasi, bukan hanya dari sisi jumlah uang yang dikeluarkan, tetapi juga dari sisi nilai tukar konsumtif uang tersebut.
Lebih jauh, data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah masyarakat yang tergolong kelas menengah mengalami penurunan signifikan. Pada 2019, kelompok ini mencakup sekitar 57 juta orang atau 21,45 persen dari populasi. Namun pada 2024, jumlahnya merosot menjadi sekitar 47 juta orang atau setara 17 persen.
Di sisi lain, kelompok masyarakat rentan miskin dan kelas menengah rentan justru bertambah jumlahnya. Kelas menengah rentan naik menjadi lebih dari 137 juta orang, sementara kelompok rentan miskin bertambah menjadi hampir 68 juta orang.
Penurunan jumlah kelas menengah ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang terdorong turun kelas akibat tekanan ekonomi yang terus berlanjut.
News Feed
Percepat Pembentukan BNNK Luwu Timur, Bupati Irwan Temui Kepala BNN RI
19 Juni 2026 21:11
Usia Baru 9 Tahun, Alya Hadirkan Tiga Buku Inspiratif untuk Anak Indonesia
19 Juni 2026 20:02
