Redaksi
Redaksi

Jumat, 23 Mei 2025 13:35

Harga Tiket Pesawat Makin Berat di Konsumen , Teryata Ini Penyebabnya Menurut Maskapai

Harga Tiket Pesawat Makin Berat di Konsumen , Teryata Ini Penyebabnya Menurut Maskapai

Maskapai Indonesia mengeluhkan tingginya biaya perawatan pesawat akibat bea masuk sparepart yang memberatkan. Harga tiket pesawat pun sulit ditekan.

BUKAMATANEWS – Tingginya biaya perawatan pesawat akibat kebijakan impor suku cadang menjadi perhatian serius perusahaan maskapai penerbangan dalam negeri. Hal ini berdampak langsung pada mahalnya harga tiket pesawat yang harus ditanggung oleh masyarakat sebagai konsumen akhir.

Presiden Direktur Lion Air Group, Capt. Daniel Putut Kuncoro Adi, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI pada Kamis (22/5/2025), menyampaikan bahwa regulasi di sektor keuangan dan perdagangan belum berpihak pada efisiensi industri penerbangan nasional.

"Concern kita adalah kembali lagi kaitannya (regulasi) kementerian/lembaga, khususnya terkait dengan pengadaan impor barang sparepart. Bandingkan dengan Malaysia-Singapura, impor atau bea masuk kita masih sekitar 37,9 persen, di Malaysia itu 14 persen, Singapura 0 persen," jelas Daniel.

Padahal, suku cadang sangat diperlukan untuk keperluan Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO), apalagi mengingat usia pesawat-pesawat di Indonesia yang semakin tua dari tahun ke tahun.

Daniel menambahkan bahwa maskapai telah berusaha melakukan pendekatan dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian Perdagangan. Pembahasan tersebut berkisar pada kemungkinan revisi PMK 81/2024 dan Permendag 3/2024 agar MRO mendapatkan perlakuan yang lebih ringan dalam hal bea masuk dan pembatasan impor.

Menurut data yang dipaparkan, pada 2019 biaya MRO hanya sekitar 7,3 persen dari total biaya operasional maskapai. Namun pada 2025, angkanya melonjak hampir tiga kali lipat menjadi 20,14 persen.

"Kalau dirata-ratakan 0 persen-30 persen, bea masuk itu 17,2 persen. Ditambah PPN 12 persen, PPh 2,5 persen, maka biaya impor kita hampir 32 persen. Ini juga menggunakan mata uang asing. Inilah yang menjadi concern kita kenapa akhirnya di 2025 cost maintenance menjadi tinggi," lanjut Daniel.

Ia juga menyoroti kendala lain, seperti minimnya fasilitas perawatan dalam negeri, yang memaksa sejumlah maskapai mengirim pesawat ke luar negeri. Ironisnya, proses impor balik sparepart ke Indonesia tetap dikenakan bea masuk dan pajak, memperberat beban operasional maskapai.

Situasi ini membuat maskapai kesulitan menurunkan harga tiket pesawat, termasuk untuk rute domestik. Tak heran jika keluhan dari masyarakat terus bermunculan terkait mahalnya harga tiket penerbangan di Indonesia.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Berita Populer