Redaksi
Redaksi

Sabtu, 19 April 2025 13:02

Tanda Kiamat Muncul dari Samudra Atlantik, Sirkulasi Laut Global Alami Gangguan Serius

Tanda Kiamat Muncul dari Samudra Atlantik, Sirkulasi Laut Global Alami Gangguan Serius

Ilmuwan menemukan tanda-tanda melemahnya arus laut Atlantik atau AMOC yang bisa mengganggu iklim global. Suhu Bumi juga tercatat makin panas, mendekati batas kritis pemanasan global.

BUKAMATANEWS – Para ilmuwan memperingatkan bahwa Bumi tengah menghadapi gangguan besar yang mengancam stabilitas iklim global. Penelitian terbaru mengungkap sirkulasi laut Atlantik atau Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC) menunjukkan tanda-tanda keruntuhan lebih cepat dari yang diperkirakan.

Temuan ini didasarkan pada pemodelan komputer canggih dan data historis, yang menunjukkan AMOC berada dalam kondisi tidak stabil dan berisiko mengalami perubahan drastis. Lebih mengkhawatirkan, kondisi ini belum pernah terjadi dalam 10 ribu tahun terakhir.

Apa Itu AMOC dan Mengapa Penting?

AMOC merupakan sistem arus laut besar yang berfungsi seperti sabuk konveyor raksasa di lautan, membawa panas, karbon, dan nutrisi dari kawasan tropis menuju Kutub Utara, sebelum air mendingin dan tenggelam ke laut dalam. Proses ini penting dalam menjaga keseimbangan suhu global.

Namun, mencairnya lapisan es di Greenland dan Arktik mempercepat aliran air tawar ke Samudra Atlantik, sehingga mengganggu sirkulasi alami air asin dari selatan yang seharusnya tenggelam.

Jika AMOC runtuh, dampaknya akan sangat luas: cuaca ekstrem, pola hujan berubah drastis, suhu menjadi tidak menentu, dan wilayah-wilayah tertentu akan mengalami kekeringan atau justru kebanjiran ekstrem.

AMOC Sudah Melemah Sejak Lama

Catatan ilmiah menunjukkan AMOC telah melemah sekitar 15% sejak 1950—menjadi yang paling lemah dalam lebih dari seribu tahun terakhir. Studi memperkirakan sistem ini bisa mencapai titik kritis antara tahun 2025 hingga 2095, meski hal ini masih menuai perdebatan.

Badan Meteorologi Inggris bahkan menyebut kemungkinan AMOC kolaps di abad ini sebagai “sangat kecil.”

Meski begitu, skenario terburuknya meliputi gangguan curah hujan di kawasan Amazon, pemanasan ekstrem di Bumi bagian selatan, serta musim dingin lebih keras di Eropa yang disertai penurunan curah hujan.

Suhu Bumi Kian Panas, Dampaknya Kian Nyata

Laporan terbaru dari Copernicus Climate Change Service (C3S) menyebut suhu global pada Januari 2025 sudah 1,75°C lebih tinggi dibandingkan masa pra-industri. Ini memperkuat kekhawatiran bahwa target pembatasan suhu global sebesar 1,5°C akan gagal tercapai dalam dekade ini.

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menilai kondisi ini sebagai titik kritis dalam sejarah umat manusia.

“Kita punya teknologi dan pendanaan. Yang kurang hanyalah keberanian politik,” tegas Ketua IPCC Lee Hoesung, seperti dikutip AFP.

Ilmuwan dari Imperial College London, Friederike Otto, menambahkan bahwa tahun-tahun terpanas yang kita alami sekarang kemungkinan akan menjadi yang “terdingin” untuk generasi mendatang.

Seruan Global Hadapi Krisis Iklim

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mendesak negara-negara maju untuk mempercepat target netral karbon, dari semula 2050 menjadi 2040, guna “meredam bom iklim” yang kian mendekat.

“Umat manusia berada di atas lapisan es yang menipis, dan lapisan itu mencair dengan cepat,” kata Guterres.

Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), 18 dari 19 bulan terakhir mencatat suhu global melampaui 1,5°C. Tahun 2024 pun tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah.

Meski belum berarti kegagalan Perjanjian Paris secara keseluruhan—karena target dinilai secara dekade—kenaikan suhu meski sedikit tetap memicu dampak besar bagi kehidupan global.



Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Berita Populer