Redaksi
Redaksi

Rabu, 18 Desember 2024 22:14

Di Balik Spanduk Bekas dan Atap Bocor: Kisah Perjuangan Nenek Itang di Kab Bone

Di Balik Spanduk Bekas dan Atap Bocor: Kisah Perjuangan Nenek Itang di Kab Bone

Nenek Itang tinggal di sebuah rumah sederhana yang jauh dari kata layak. Rumah itu berdinding spanduk bekas dan papan lapuk. Atap rumbia yang sudah berlubang di sana-sini membuat air hujan dengan mudah membasahi seisi rumah.

BONE, BUKAMATANEWS - Di pinggiran Kota Watampone, tepatnya di Kelurahan Watang Palakka, Kecamatan Tanete Riattang Barat, terdapat kisah perjuangan hidup seorang wanita lansia bernama Itang. Meski usianya telah mencapai 68 tahun, semangatnya tak pernah pudar meski harus menjalani hari-hari penuh keterbatasan.

Nenek Itang tinggal di sebuah rumah sederhana yang jauh dari kata layak. Rumah itu berdinding spanduk bekas dan papan lapuk. Atap rumbia yang sudah berlubang di sana-sini membuat air hujan dengan mudah membasahi seisi rumah. Setiap hujan turun, rumah tersebut berubah menjadi genangan air. Malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat kerap berlalu tanpa tidur. Itang dan keluarganya hanya bisa duduk beralaskan plastik, menunggu hujan reda.

Hidup Bersama Keluarga yang Bertahan di Tengah Keterbatasan

Nenek Itang tidak tinggal sendiri. Ia hidup bersama anak perempuannya, Hastuti, yang berstatus janda, serta menantunya, Dian, yang juga seorang janda bersama anaknya yang masih berusia 3 tahun. Dian bekerja sebagai pemulung, sering kali mengajak anak kecilnya berkeliling mencari sampah.

Lingkungan rumah Itang cukup sepi. Letaknya berada di ujung gang sempit sekitar 50 meter dari jalan utama. Hanya ada lima rumah lain di sekitarnya. Pendapatan Itang pun jauh dari cukup. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia mencoba berjualan barang campuran di rumah. Namun, pembelinya seringkali hanya tiga orang per hari, sebagian besar anak-anak yang membeli mie instan atau kerupuk seharga Rp500 hingga Rp3.000.

“Kami Tak Pernah Tidur Saat Hujan Turun”

“Kalau hujan, kami berkumpul di ruang tengah karena sebagian besar rumah sudah masuk air hujan. Kadang kami tidak tidur semalaman, hanya duduk menunggu hujan reda,” ujar Itang ketika ditemui pada Rabu (18/12/2024).

Itang memiliki empat anak, tetapi semuanya telah berkeluarga dan tinggal terpisah. Hanya Hastuti yang tinggal bersamanya, meski Hastuti sendiri tidak memiliki pekerjaan tetap. Mereka mengandalkan bantuan dari kerabat dan orang baik yang terkadang mengirimkan beras atau kebutuhan pokok lainnya.

Bantuan yang Pernah Ada dan Harapan yang Belum Sirna

Beberapa tahun lalu, Itang sempat menerima bantuan pemerintah, tetapi hal itu terhenti karena masalah administrasi. Saat mencoba mengurus kembali, pandemi COVID-19 membuat segalanya semakin sulit. Hingga kini, bantuan tersebut tak pernah lagi ia terima.

"Untuk makan sehari-hari, kadang ada keluarga yang datang bawa beras, kadang juga orang lain bawa sesuatu ke sini. Saya sangat bersyukur atas bantuan mereka,” ucapnya penuh rasa syukur.

Pengingat Akan Pentingnya Kepedulian

Kisah Nenek Itang menjadi potret nyata perjuangan hidup di tengah keterbatasan. Rumah reyot yang ia tempati bersama keluarganya bukan hanya membutuhkan perhatian, tetapi juga uluran tangan dari para dermawan dan pemerintah.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi banyak orang akan pentingnya saling membantu dan berbagi rezeki. Dengan bantuan kecil dari banyak pihak, Nenek Itang mungkin bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak, di mana ia dan keluarganya dapat menikmati malam yang tenang, bahkan ketika hujan deras mengguyur.

Penulis : Choys
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Kab Bone