Redaksi
Redaksi

Senin, 02 Desember 2024 00:13

INT
INT

Uniqlo Tolak Kapas Xinjiang, Konsumen China Bersumpah Tidak Akan Membeli

Dua tagar tentang pernyataan Yanai menjadi viral pada Jumat di platform media sosial China, Weibo. Banyak pengguna mengecam Uniqlo dan bersumpah tidak akan membeli produknya lagi

BUKAMATANEWS - Uniqlo menghadapi seruan boikot konsumen di China setelah bos perusahaan tersebut mengatakan bahwa merek pakaian asal Jepang itu tidak menggunakan kapas dari Xinjiang di tengah tuduhan adanya kerja paksa di wilayah tersebut.

CEO Fast Retailing, Tadashi Yanai, yang selama bertahun-tahun tidak memberikan pernyataan terkait pengadaan kapas dari wilayah barat laut China itu, mengungkapkan minggu ini kepada BBC bahwa Uniqlo "tidak menggunakan" kapas dari Xinjiang.

"Dengan menyebutkan kapas mana yang kami gunakan... sebenarnya, ini menjadi terlalu politis jika saya menjelaskan lebih lanjut, jadi mari kita hentikan di sini," ujar Yanai tanpa memberikan detail lebih lanjut.

Perusahaan-perusahaan yang membeli pakaian, kapas, tomat, dan barang-barang lain dari Xinjiang berada di bawah tekanan dari konsumen Barat terkait tuduhan genosida terhadap minoritas Uighur dan Muslim Hui di bawah pemerintahan Xi Jinping selama dekade terakhir. Beijing secara rutin membantah tuduhan "kejahatan terhadap kemanusiaan" tersebut dan menyebutnya sebagai "kebohongan abad ini".

Dua tagar tentang pernyataan Yanai menjadi viral pada Jumat di platform media sosial China, Weibo. Banyak pengguna mengecam Uniqlo dan bersumpah tidak akan membeli produknya lagi.

"Dengan sikap seperti ini dari Uniqlo, dan pendirinya yang begitu arogan, mereka mungkin bertaruh bahwa konsumen daratan akan melupakan ini dalam beberapa hari dan terus membeli. Jadi, bisakah kita tetap tegas kali ini?" tulis salah satu pengguna.

"Sepertinya saya harus berhenti membeli Uniqlo di masa depan," tulis pengguna lainnya di Weibo.

Di platform X, akun bernama Shanghai Panda dengan lebih dari 110.000 pengikut menulis: "UNIQLO menolak kapas Xinjiang. Orang China harus menolak UNIQLO."

China adalah salah satu pasar terbesar bagi Uniqlo, tempat merek ini berencana memperluas bisnisnya. China Raya, termasuk Taiwan dan Hong Kong, menyumbang lebih dari 20 persen pendapatan perusahaan. Yanai mengatakan kepada BBC bahwa saat ini hanya ada 900 hingga 1.000 toko di China, "Saya pikir kami bisa meningkatkan jumlahnya menjadi 3.000."

Beberapa merek global seperti H&M, Nike, Tommy Hilfiger, dan Adidas telah menghadapi reaksi serupa di China karena menghapus produk yang menggunakan kapas Xinjiang dari rak mereka. Langkah itu dilakukan setelah adanya tekanan dari sanksi yang dipimpin AS yang memberlakukan regulasi lebih ketat terhadap impor barang dari Xinjiang pada 2022.

H&M, misalnya, melihat tokonya dihapus dari platform e-commerce utama dan lokasinya dihapus dari aplikasi peta di China akibat kemarahan konsumen terhadap keputusan tersebut.

Wilayah Xinjiang dikenal sebagai salah satu produsen kapas terbaik di dunia. Sebuah laporan federal AS yang diterbitkan pada 2022 memperkirakan bahwa kapas dari Xinjiang menyumbang sekitar 87 persen dari produksi kapas China dan 23 persen dari pasokan global pada 2020 dan 2021.

Seorang juru bicara kementerian luar negeri China mengatakan: "Kami berharap perusahaan terkait dapat menghilangkan tekanan politik dan gangguan negatif, serta membuat keputusan bisnis independen yang sesuai dengan kepentingan mereka sendiri."

China pada 2021 menuduh Barat "menciptakan kebohongan seperti 'kerja paksa' untuk menciptakan 'pemutusan hubungan industri secara paksa' dan 'pengangguran paksa' di Xinjiang guna menekan perusahaan dan industri China."

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Uniqlo