Redaksi
Redaksi

Kamis, 14 November 2024 23:38

Kisah Perjuangan dan Pelajaran Berharga: Persipare U-15 Terhenti di Perempat Final Soeratin Cup

Kisah Perjuangan dan Pelajaran Berharga: Persipare U-15 Terhenti di Perempat Final Soeratin Cup

Perjuangan Persipare U-15 adalah cermin semangat pantang menyerah anak-anak muda Parepare. Meski terhenti di tengah jalan, kisah ini menjadi pengingat akan pentingnya dukungan penuh untuk membangun masa depan sepak bola Parepare yang lebih gemilang.

PARE, PARE, BUKAMATANEWS – Langkah tim Persipare U-15 di Soeratin Cup Makassar harus terhenti di babak perempat final setelah kalah lewat drama adu penalti melawan QDR FC, Makassar. Kekalahan ini menjadi akhir perjalanan penuh perjuangan bagi "Laskar Habibie," yang bertarung di tengah berbagai keterbatasan, terutama soal anggaran.

Pelatih Persipare U-15, Hamdani, tak mampu menyembunyikan rasa kecewanya. Setibanya di Parepare, ia langsung menyampaikan keluhannya kepada Ketua KONI Parepare, Fadly Agus Mante.

“Awalnya, saya termotivasi karena melihat bakat dan potensi anak-anak di SSB Habibie Soccer Junior (HSJP). Namun, karena biaya pendaftaran yang tinggi, kami terpaksa mendaftar dengan nama Persipare U-15,” ungkap Hamdani.

Biaya pendaftaran sebesar Rp15 juta untuk memakai nama SSB ternyata menjadi tantangan besar. Akhirnya, dengan hanya Rp3 juta, Persipare U-15 berhasil ikut serta. Meski demikian, perjuangan mereka tidaklah mudah.

“Kami berjalan dengan modal nekat. Anak-anak harus naik bus DAMRI ke Makassar. Di sana, mereka hanya makan sekali sehari dengan nasi kuning Rp5 ribu. Jika malam, mereka mencari biaya sendiri. Tapi, anak-anak tetap berjuang demi nama Parepare,” tambah Hamdani.

Meski akhirnya kalah dalam adu penalti, Hamdani mengaku bangga dengan semangat juang timnya.

Ketua KONI Parepare, Fadly Agus Mante, mengaku situasi yang dialami tim Persipare U-15 adalah tamparan keras bagi pihaknya.

“Ini menjadi refleksi bagi kami di KONI. Sebenarnya, masih ada anggaran Rp300 juta di PSSI. Namun, pencairan dana hibah memerlukan syarat administratif, termasuk SK Cabang Olahraga (Cabor) definitif, yang belum terpenuhi,” jelasnya.

Fadly juga menyoroti kurangnya perhatian dari Asprov PSSI terkait kondisi Askot PSSI yang masih dipimpin Plt (Pelaksana Tugas).

“Ketika daerah dipimpin Plt, otomatis tidak ada yang benar-benar mengurus tim. Akhirnya, para orang tua atlet yang harus turun tangan, bahkan anak-anak terpaksa bermalam di masjid. Ini menjadi evaluasi besar-besaran bagi kami,” tegas Fadly.

Kejadian ini menjadi catatan penting bagi KONI Parepare untuk mendorong reformasi di dunia sepak bola Parepare. Fadly berharap peristiwa serupa tidak akan terulang di masa depan.

“Kami akan meminta format pembinaan sepak bola yang lebih jelas dan berkelanjutan. Fasilitas kita sudah memadai, bahkan Stadion Gelora BJ Habibie akan memenuhi standar internasional tahun depan,” ujar Fadly.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga semangat para atlet muda untuk terus berlatih dan berprestasi. Dalam waktu dekat, KONI Parepare berencana menyampaikan aspirasi kepada Asprov PSSI Sulsel untuk percepatan kongres PSSI Parepare.

“Ada 18 tim sepak bola dan 3 SSB yang mendukung percepatan kongres ini. Kami akan membawa aspirasi mereka ke Asprov Sulsel,” tutup Fadly.

Perjuangan Persipare U-15 adalah cermin semangat pantang menyerah anak-anak muda Parepare. Meski terhenti di tengah jalan, kisah ini menjadi pengingat akan pentingnya dukungan penuh untuk membangun masa depan sepak bola Parepare yang lebih gemilang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Persipare U-15