Dewi Yuliani
Dewi Yuliani

Minggu, 21 Juni 2026 18:38

Int
Int

BMKG Imbau Warga Waspadai Kekeringan Ekstrem dan Karhutla Dampak El Nino

Pemerintah dan masyarakat harus mengambil upaya mitigasi apalagi musim kemarau kali ini periodenya lebih lama. Salah satunya, dengan berhemat air apalagi masih didapati hujan.

MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat waspada bencana hidrometeorologi dampak dari El Nino. Fenomena El Nino bersamaan dengan musim kemarau yang menyebabkan kondisi di Indonesia lebih kering dan panjang.

Ketua Tim Kerja Prediksi Bulanan BMKG, Supari, mengatakan, El Nino membuat curah hujan di Indonesia berkurang yang diikuti oleh dampak lanjutan atau dampak turunan. Diantaranya, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hingga menurunnya kualitas udara akibat meningkatnya polusi.

Dampak lainnya, tidak optimalnya operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) akibat level air waduk yang menyusut. Bahkan kekeringan ekstrem karena menyusutnya sumber air.

"El Nino yang terjadi bersamaan dengan musim kemarau dapat menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-ratanya. Dampak yang perlu diwaspadai adalah bencana hidrometeorologi kering, yaitu kekeringan dan karhutla," kata Supari dalam keterangan tertulis, Minggu, 21 Juni 2026.

Ia menjelaskan, berkurangnya curah hujan terutama umumnya pada periode Juni hingga November 2026. El Nino 2026 saat ini telah aktif dan diprediksi akan berlangsung hingga awal 2027.

Meski demikian, lanjut dia, dampak El Nino di Indonesia, tidak seragam atau berbeda-beda di masing-masing wilayah. Di sejumlah wilayah masih dijumpai hujan namun jauh di bawah normal terutama periode Agustus-Oktober.

Wilayah tersebut diantaranya Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan. Kemudian, sebagian besar Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua.

Oleh sebab itu, Supari meminta pemerintah dan masyarakat mengambil upaya mitigasi apalagi musim kemarau kali ini periodenya lebih lama. Salah satunya, dengan berhemat air apalagi masih didapati hujan.

"Dalam skala yang lebih luas, pemerintah baik pusat maupun daerah perlu memastikan embung atau waduk tetap terisi air dan irigasi teknis berfungsi dengan baik. Selain itu, langkah lain yang dilakukan adalah memperbanyak sumur dan pompa air," katanya, menjelaskan.

Ia mengatakan, untuk sektor pertanian, masyarakat perlu memilih komoditas yang lebih tahan kekeringan pada musim tanam ketiga sehingga pasokan pangan tetap terjaga. Pemerintah daerah dapat menyiapkan pompa air untuk membantu petani mengatasi kekeringan di lahan pertanian.

"Pada sektor kebencanaan, masyarakat dan pemerintah diharapkan siaga atas potensi karhutla. Di sisi lain, kondisi kemarau dengan sifat lbih kering ini dapat dioptimalkan untuk peningkatan produksi tebu dan juga tambak garam," ujarnya. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#BMKG #El Nino #Kekeringan ekstrem #Karhutla #Kebakaran hutan dan lahan