JAKARTA, BUKAMATA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, beberapa wilayah di Indonesia bagian selatan sudah memasuki puncak musim kemarau. Sejak tiga hari terakhir, cuaca cerah mendominasi hampir di seluruh Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Kalimantan bagian selatan.
Meski demikian, dalam sepekan ke depan ada peningkatan potensi hujan di Indonesia khususnya wilayah tengah hingga timur. Mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Maluku Utara, NTT, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto, dalam keterangan persnya, dikutip Sabtu, 27 Juli 2024. Ia menjelaskan, gelombang ekuator rossby diprediksi memicu wilayah yang sebelumnya mengering akibat musim kemarau kembali basah seminggu ke depan.
Dalam prospek cuaca mingguan periode 26 Juli - 1 Agustus 2024, mengatakan secara umum wilayah Indonesia masuk musim kemarau.
"Tetap waspada di musim kemarau, potensi karhutla di sebagian wilayah, di sebagian yang lain potensi hujan masih ada," pesannya.
Ia mengatakan, kondisi ini dipengaruhi oleh gelombang ekuator rossby yang diprakirakan aktif di wilayah tersebut. Aktivitas gelombang ini mendukung potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah itu.
Gelombang ekuator rossby merupakan gelombang atmosfer yang bergerak ke arah barat di sepanjang wilayah ekuator (20LU - 20LS) dengan periode kurang dari 72 hari. Gelombang rossby umumnya bisa bertahan 7-10 hari di wilayah Indonesia.
Dampak ekuator rossby di Indonesia akan menjadi lebih ekstrem jika terjadi bersamaan dengan aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) pada periode dan lokasi yang sama.
Untuk saat ini, MJO berada pada fase netral dan tidak berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.
Selain itu, Guswanto menyebut ada faktor pemanasan skala lokal yang memberikan pengaruh cukup signifikan dalam proses pengangkatan massa udara dari permukaan bumi ke atmosfer. (*)
BERITA TERKAIT
-
Belajar Mitigasi Bencana, Santri PPM Al-Fityan Gowa Kunjungi BMKG
-
BPBD Sulsel Serahkan Bantuan Logistik untuk Pengungsi Banjir Kelurahan Katimbang
-
Gempa Berkekuatan Magnitudo 4,9 Guncang Pulau Bawean, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
-
Prakiraan Cuaca Ibu Kota Provinsi Se Indonesia, Makassar Hujan dengan Intensitas Ringan
-
Peringatan Dini Cuaca Ekstrem, Tiga Daerah di Sulsel Rawan Bencana Hidrometeorologi