Hikmah : Kamis, 18 Januari 2024 13:33

BUKAMATA - Kementerian Perindustrian Indonesia meramalkan pertumbuhan industri manufaktur yang signifikan seiring dengan perluasan pasar ekspor global.

Dukungan terhadap produk lokal yang semakin bersaing dan permintaan pasar ekspor yang terus meningkat menjadi pendorong utama optimalisasi produktivitas perusahaan.

Menurut catatan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), pada kuartal III tahun 2023, industri logam dasar mencatat pertumbuhan dua digit sebesar 10,86%.

Angka ini jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,94% dan kinerja industri pengolahan nonmigas yang tumbuh 5,02%.

"Pertumbuhan industri pengolahan nonmigas, khususnya sektor logam dasar, didorong oleh tingginya permintaan pasar, terutama ekspor.Performa positif dari sektor logam dasar ini didukung oleh peningkatan permintaan pasar, khususnya ekspor," ungkap Staf Ahli Bidang Iklim Usaha dan Investasi Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi.

Kemenperin memberikan apresiasi terhadap komitmen PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) yang aktif dalam menembus pasar ekspor. Pada awal tahun 2024, GGRP berhasil mengekspor baja struktur sebanyak 1500 Metric Tons (MT) ke Kanada senilai USD2 juta. Hingga sepanjang tahun 2023, GGRP mencatat ekspor sebesar US$25 juta.

Presiden Direktur GGRP, Fedaus, menjelaskan bahwa produk baja struktural yang diekspor mendukung pembangunan proyek Yukon Bridge di Kanada.

"Dengan Weather Resistance Grade, produk ini mengandung penambahan nikel untuk ketahanan korosi, menjadikannya pilihan ideal untuk konstruksi jembatan dalam cuaca ekstrem," tambahnya.

Melalui ekspor baja struktural ini, GGRP tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga berkomitmen mendukung pembangunan infrastruktur di skala internasional.

Fedaus menekankan bahwa kontribusi GGRP dalam penguatan industri besi dan baja tidak hanya sebatas angka ekspor, tetapi juga berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi nasional.