Natal Berdarah di Palestina dan Upaya Diplomasi Pemimpin Islam Menuju Gencatan Senjata
Di tengah keganasan itu, Paus Fransiskus memimpin Misa Malam Natal di Basilika Santo Petrus di Roma, dengan hati yang terpaut pada Bethlehem. Ia menyatakan bahwa Natal di Bethlehem, kota yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Yesus, kembali ditandai oleh penolakan terhadap kedamaian oleh logika perang yang tak berarti.
BUKAMATA - Malam Natal di Palestina diselimuti tragedi berdarah, dengan serangan udara Israel yang mengakibatkan puluhan warga Palestina tewas di Jalur Gaza. Paus Fransiskus sendiri mengekspresikan duka cita atas perang yang berkecamuk di Tanah Suci, menyebutnya sebagai logika perang yang sia-sia dan menghambat kedamaian.

Serangan yang dimulai pada malam Natal itu terus berlanjut hingga Hari Natal, dengan penduduk setempat melaporkan peningkatan serangan udara dan tembakan darat di sejumlah wilayah Gaza. Puncaknya, serangan udara Israel di Maghazi, tengah Gaza, menewaskan sedikitnya 70 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.
Pernyataan resmi dari militer Israel menyebutkan bahwa mereka sedang meninjau laporan insiden tersebut dan berkomitmen untuk meminimalkan dampak terhadap warga sipil. Sementara itu, Hamas membantah tuduhan Israel bahwa mereka beroperasi di daerah padat penduduk atau menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia.
Di tengah keganasan itu, Paus Fransiskus memimpin Misa Malam Natal di Basilika Santo Petrus di Roma, dengan hati yang terpaut pada Bethlehem. Ia menyatakan bahwa Natal di Bethlehem, kota yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Yesus, kembali ditandai oleh penolakan terhadap kedamaian oleh logika perang yang tak berarti.
Puluhan warga Palestina yang terluka akibat serangan udara dibawa ke rumah sakit, namun situasi semakin rumit karena pesawat tempur Israel menghantam jalan utama antara wilayah-wilayah Gaza, menghambat pergerakan ambulans dan kendaraan darurat.
Upaya Diplomasi di Kairo
Para pemimpin Islam, di tengah berita berdarah ini, terlibat dalam upaya diplomasi untuk mencapai gencatan senjata. Mesir dan Qatar menjadi mediator dalam pembicaraan ini. Kelompok militan Jihad Islam, yang bersekutu dengan Hamas, mengirim delegasi ke Kairo yang dipimpin oleh Ziad al-Nakhlala, pemimpin mereka yang diasingkan.
Meskipun upaya diplomasi ini belum menghasilkan kemajuan publik yang signifikan, Washington menggambarkannya sebagai pembicaraan yang sangat serius. Pembicaraan di tingkat tinggi antara Hamas dan Islamic Jihad, dengan dukungan Mesir dan Qatar, diharapkan dapat membawa keberhasilan menuju perdamaian dan gencatan senjata.
Sementara itu, dunia internasional terus memantau perkembangan di Palestina dengan keprihatinan. Seruan untuk mengakhiri pertumpahan darah dan mendukung upaya diplomasi semakin berkumandang, sementara Israel merasakan tekanan untuk mengurangi kerugian sipil dan mengubah arah operasinya.
Natal tahun ini di Palestina tidak hanya diwarnai oleh keindahan perayaan, tetapi juga oleh tragedi dan penderitaan. Kini, mata dunia tertuju pada upaya diplomatik yang dilakukan oleh pemimpin Islam untuk membawa kedamaian di Tanah Suci dan mengakhiri konflik yang telah merenggut banyak nyawa dan menderita penduduk Gaza.
News Feed
Berita Populer
04 Mei 2026 10:55
04 Mei 2026 10:35
