Pasukan Israel Alami Kekalahan Terburuk dan Kehilangan Dukungan Internasional
Namun, Israel semakin kehilangan dukungan internasional, terutama dari negara-negara Barat. AS, sebagai sekutu utama Israel, telah menahan dukungannya, bahkan menunda penjualan lebih dari 20.000 senapan AS ke Israel.
BUKAMATA - Militer Israel melaporkan hari Rabu 13 November waktu setempat bahwa mereka mengalami kekalahan paling parah sejak dimulainya konflik bersenjata pada Oktober lalu.

Dalam periode 24 jam terakhir, 10 tentara Israel tewas, termasuk seorang kolonel dan seorang letnan kolonel yang memimpin pasukan di garis depan.
Berdasarkan laporan Reuters, mayoritas kematian terjadi di distrik Shejaia, Kota Gaza utara, di mana pasukan Israel disergap saat berusaha menyelamatkan rekan-rekan mereka yang menyerang pejuang Hamas. Hamas menilai insiden ini sebagai bukti bahwa Israel tidak dapat mengalahkan Gaza.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersikeras bahwa militer akan terus berjuang meskipun adanya tekanan internasional untuk gencatan senjata.
"Kami akan melanjutkannya hingga akhir, hingga kemenangan, hingga Hamas dilenyapkan," kata Netanyahu.
Namun, Israel semakin kehilangan dukungan internasional, terutama dari negara-negara Barat. AS, sebagai sekutu utama Israel, telah menahan dukungannya, bahkan menunda penjualan lebih dari 20.000 senapan AS ke Israel.
Pemerintah AS, di bawah kepemimpinan Joe Biden, mengkritik keras serangan tanpa pandang bulu di Gaza yang telah menewaskan ribuan warga sipil.
Pernyataan terbaru dari Presiden Biden menyebutkan bahwa Israel mulai kehilangan dukungan karena operasi militer yang terus intensif di Gaza.
"Keamanan Israel bisa saja bergantung pada AS, namun saat ini mereka mendapat dukungan dari Uni Eropa, mempunyai Eropa, sebagian besar negara di dunia. Namun mereka mulai kehilangan dukungan karena pemboman yang tidak pandang bulu yang terjadi," ujar Biden.
News Feed
Berita Populer
04 Mei 2026 10:55
04 Mei 2026 10:35
