Dewi Yuliani : Kamis, 09 November 2023 18:05
Politeknik Pariwisata Makassar melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan stakeholder terkait di Kupang, Provinsi NTT.

KUPANG, BUKAMATA - Politeknik Pariwisata Makassar melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan stakeholder terkait di Kupang, Provinsi NTT, dalam rangka memperkuat kesiapan Pembukaan Program Studi Diluar Kampus Utama (PSDKU) Politeknik Pariwisata Makassar. Kegiatan ini dilaksanakan di Meeting Room Palacio 2, Aston Hotel Kupang, Rabu, 8 November 2023.

Rombongan Politeknik Pariwisata Makassar dipimpin oleh Direktur Herry Rachmat Widjaja, dan Pembantu Direktur II Bidang Keuangan Nur Salam, selaku Penanggungjawab Tim PSDKU.

Dalam agenda ini, rombongan Politeknik Pariwisata Makassar disambut oleh Pj Gubernur NTT, Ayodhia Gehak Lakunamang Kalake, di Kantor Gubernur sesaat FGD dimulai.

Kegiatan FGD dimulai dengan laporan dari Ketua Tim Pembukaan PSDKU Politeknik Pariwisata Makassar, Islahuddin.

"Menindaklanjuti nota dinas Direktur Politeknik Pariwisata Makassar nomor B/ND/134/OT.00.00/PTP.3/2023 tentang Pembentukan Tim Persiapan Pembukaan Program Studi Diluar Kampus Utama (PSDKU) Politeknik Pariwisata Makassar di Nusa Tenggara Timur (NTT) kemudian menunjuk kami sebagai Ketua Tim," ujarnya.

Ia mengatakan, tim ini nantinya akan menjadi katalisator dalam menterjemahkan arahan Kemenparekraf terkait pengembangan SDM Pariwisata Indonesia dan hasil dari kunjungan.

Ketua Jurusan Hospitality Politeknik Pariwisata Makassar ini berharap, dapat memperoleh informasi tentang kesiapan sumber daya manusia, persepsi pemerintah terkait, perguruan tinggi dan asosiasi yang fokus pada aktivitas pariwisata di Provinsi NTT.

Selanjutnya, Direktur Politeknik Pariwisata Makassar, Herry Rachmat Widjaja, mengatakan, PSDKU berdasarkan arahan Menteri tentang pembentukan PTPN di Indonesia.

"Arahan menteri untuk membuka PSDKU dimulai oleh Politeknik Pariwisata Bali, yang dilakukan di Provinsi Sulawesi Utara, Manado dan  Solo Raya (Sragen)," jelasnya.

Politeknik Pariwisata diberi tugas untuk menyediakan dan membuka kampus pariwisata di Indonesia, salah satunya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Politeknik Pariwisata Makassar memiliki syarat untuk Pembukaan PSDKU.

"Dari delapan program studi di Politeknik Pariwisata Makassar, lima program studi yang sudah unggul diantaranya Prodi Divisi Kamar, Tata Hidang, PEW, PKA, Seni Kuliner, sehingga jika merujuk pada peraturan yang ada tentang Persyaratan dan Prosedur Pembukaan Program Studi di Luar Kampus Utama, maka Politeknik Pariwisata Makassar dapat membuka PSDKU," jelasnya.

Lebih lanjut, Direktur Politeknik Pariwisata Makassar menyampaikan, arahan dari PJ Gubernur NTT untuk dibuka di Kupang dengan pertimbangan bahwa Kupang sebagai pusat kota dengan keberagaman sumber daya manusia yang ada. Berbeda dengan Politeknik Pariwisata Bali yang merekomendasikan Labuan Bajo sebagai lokasi pendirian PSDKU.

"Laporan hasil FGD dan survey dari tim akan disandingkan dengan kajian Politeknik Pariwisata Bali, dan selanjutnya akan dilaporkan ke Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan SESMEN lalu ke Menteri," ungkapnya.

Direktur Politeknik Pariwisata menutup sambutan dengan mengajak seluruh peserta untuk berperan aktif selama proses Focus Group Discussion (FGD).

Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Zet Sony Libing, saat FGD memulai dengan memaparkan potensi wisata di NTT. Ia menguraikan, Provinsi NTT memiliki 1.582 destinasi wisata. Diantaranya 720 Wisata Alam, 751 Wisata Budaya, 110 Wisata Minat Khusus, dan 1 Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan Bajo yang ditopang dengan 86.928 Pelaku Ekonomi Kreatif.

"Nusa tenggara Timur adalah Ring Of Beauty. Kami memiliki taman laut terindah di dunia setelah Kepulauan Karibia yang berada Mabar dan Alor, pantai di ujung selatan. Di Flores terdapat Labuan Bajo dan Komodo, bahkan media asing menyebut NTT dengan Ring Of Beauty, yang berarti Cincin yang dikelilingi oleh keindahan," urainya.

Zet Sony Libing juga bercerita tentang sejarah pariwisata di NTT. Kebesaran pulau-pulau Flores diawali ketika Wakil Presiden saat itu adalah Jusuf Kalla yang konsen untuk melirik Labuan Bajo. Melalui dinamika yang panjang, Labuan Bajo tampil sebagai destinasi yang dipuji dunia. Labuan Bajo pada tahun 2022 kedatangan tamu atau wisatawan mencapai 1.300.000. Bahkan kunjungan wisatawan di NTT pasaca Covid di tahun 2023 mencapai 1.500.000.

"Ketika yang lain stagnan, Labuan Bajo sekali lagi tampil sebagai Destinasi Unggulan," pungkasnya.

Menurutnya, pariwisata di NTT membutuhkan pengembangan sumber daya manusia melalui peran perguruan tinggi untuk menciptakan budaya pariwisata. (*)