MAKASSAR, BUKAMATA - Pemerintah telah melakukan launching imunisasi Rotavirus untuk mencegah terjadinya kematian akibat diare berat. Unicef, sebagai lembaga yang concern terhadap anak-anak akan ikut membantu pemerintah dalam mensosialisasikan imunisasi ini di masyarakat.
Hengky Widjaya selaku Koordinator Unicef Wilayah Sulawesi dan Maluku, mengatakan, imunisasi Rotavirus ini mencakup semua anak di bawah satu tahun. Menyasar anak dengan usia 2, 3, dan 4 bulan.
"Semua anak di bawah usia satu tahun itu kita usahakan untuk bisa dijangkau dan stok vaksin dipastikan sesuai dengan target aman," jelas Hengky, ditemui di sela peluncuran Imunisasi Rotavirus, di Kabupaten Pangkep, belum lama ini.
Ia menjelaskan, pada uji coba pertama tidak ada penolakan dan vaksin ini memang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah diare. Apalagi di Sulsel, kasus diare hingga akhir Juli 2023 mencapai angka 60 ribu.
"Ini menunjukkan masalah diare masih cukup serius, apalagi untuk anak-anak di bawah satu tahun. Kalau kita lihat dari data saja di Indonesia itu beberapa kali media sudah sampaikan bahwa diare jadi penyebab kematian kedua atau besar untuk balita yang dibawah 11 bulan, dan itu persentasenya memang besar hampir 10 persen dari kematian bayi dibawah satu tahun itu karena diare," terangnya.
Tingginya kasus diare ini, sambungnya, cukup menjadi satu alarm terkait dengan kesehatan anak. Karena itu, penting memperhatikan juga sanitasi hingga masalah gizi, yang bisa mengakibatkan diare pada anak.
"Perlu diingat bahwa bayi di bawah satu tahun itu idealnya masih memperoleh ASI eksklusif. Jadi yang paling penting itu kita dukung justru gizi ibunya supaya bisa memberikan asi eksklusif karena anak di bawah satu tahun itu kita tidak anjurkan untuk di berikan makanan selain asi,itu harus asi eksklusif jadi ibunya sebagai pemberi asi itu yang jadi penekanan jadi fokus, terus masalah sanitasi menyediakan air bersih di rumah, memasak dan sebagainya, itu kan penting termasuk untuk kebutuhan cuci tangan bagi orang-orang rumah karena anak-anak kecil kan tentunya akan sangat terpengaruh pada kesehatan dari orang-orang yang ada di sekitarnya," jelasnya.
Hengky mengungkapkan, Unicef membantu pemerintah dalam hal promosi kesehatan untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Apalagi setelah vaksin HPV sebelumnya, trend hoax meningkat.
"Perlu menyampaikan berita yang benar ke masyarakat, bahwa diare itu bukan hoax dan bisa berdampak buruk pada anak. Seperti stunting. Anak yang sering mengalami diare itu pasti akan mengalami defisit zat gizi micro dan itu sangat berpengaruh pada pertumbuhan bayi di usia dini," terangnya. (*)
BERITA TERKAIT
-
Penjualan Susu Formula Capai Triliunan Per Tahun, IDAI Edukasi Masyarakat Pentingnya ASI
-
Pemkab Luwu Timur Dukung Peningkatan Kualitas Gizi Masyarakat melalui Program Terintegrasi dan Berkelanjutan
-
Pemkab Gowa Genjot Penurunan Stunting, Targetkan Prevalensi 16,4 Persen pada 2025
-
Didampingi Bunda PAUD Sulsel, Prof Zudan Canangkan Pemberian Vaksin Polio Putaran Kedua
-
564 Sekolah di Gaza Hancur Gegara Bom Israel