Redaksi : Senin, 31 Juli 2023 19:13

MAKASSAR, BUKAMATA - Dalam Pilpres 2024, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) masih belum sepenuhnya menentukan dukungannya terhadap Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Rencana dukungan PSI untuk Pilpres 2024 akan dibahas dalam acara Kopdarnas.

Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie, mengungkapkan bahwa pada akhir tahun 2022, partainya telah mengadakan rembuk rakyat atau jajak pendapat untuk mencari sosok calon presiden (capres) yang diinginkan. Dari hasil jajak pendapat tersebut, muncul sembilan nama calon presiden, dan yang mendapatkan dukungan tertinggi adalah Ganjar Pranowo.

Namun, Grace menegaskan bahwa keputusan akhir dukungan PSI dalam Pilpres akan ditentukan melalui diskusi di acara Kopdarnas yang dijadwalkan pada 22 Agustus 2023 di Jakarta. Acara tersebut akan melibatkan seluruh pengurus dan kader PSI yang akan diundang dari berbagai daerah.

Grace menyatakan bahwa PSI akan mendukung calon presiden yang bertekad untuk melanjutkan program pembangunan yang telah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, selama sembilan tahun kepemimpinan Jokowi, telah terbangun dasar-dasar pembangunan Indonesia. Maka dari itu, PSI menganggap hal paling penting adalah memilih calon presiden yang dapat meneruskan program-program tersebut.

Grace menekankan bahwa jika calon presiden yang terpilih tidak berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan di atas dasar yang sudah ada, maka Indonesia akan kehilangan waktu dan uang. PSI meyakini bahwa tahun 2035 akan menjadi masa emas bagi Indonesia, di mana usia produktif akan lebih banyak daripada non-produktif. Oleh karena itu, memilih pemimpin yang berkomitmen untuk pembangunan berkelanjutan sangatlah penting.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan dukungan PSI beralih ke Prabowo Subianto, Grace tetap menegaskan bahwa komitmen partainya ada pada Jokowi. Karena PSI ingin agar pembangunan yang telah dimulai oleh Jokowi dapat terus berlanjut di masa kepemimpinan selanjutnya.

Menyangkut calon wakil presiden (cawapres), Grace menginginkan adanya perwakilan pemuda yang maju dalam Pilpres. Hal ini dikarenakan mayoritas pemilih di Pemilu 2024 diperkirakan akan terdiri dari anak muda, sekitar 60 persen. Grace berpendapat bahwa jika semua kandidat cawapres adalah orang tua, maka anak muda akan merasa kurang relevan dan cenderung tidak berpartisipasi dalam pemilu.

Dengan demikian, Grace Natalie menekankan pentingnya pemilihan calon presiden yang dapat melanjutkan pembangunan yang telah dilakukan oleh Jokowi, sambil juga mempertimbangkan keterlibatan pemuda dalam proses politik untuk menjaga relevansi pemilu di mata generasi muda.