Redaksi
Redaksi

Senin, 17 Juli 2023 20:02

Makam pangeran Diponegoro di pemakaman santri, di Kecamatan Wajo, Makassar
Makam pangeran Diponegoro di pemakaman santri, di Kecamatan Wajo, Makassar

Fakta Sejarah : Alasan Pangeran Diponegoro Minta Dimakankan di Makassar

Alasan Pangeran Diponegoro memilih lokasi tersebut sebagai tempat peristirahatan terakhirnya adalah karena ia menganggapnya sebagai makam santri. Ia dikenal sebagai seseorang yang taat beribadah dan memiliki pemahaman yang mendalam dalam ilmu agama.

MAKASSAR,BUKAMATA - Raden Hamzah Diponegoro membagikan kisah menarik tentang masa akhir hayat kakeknya, Pangeran Diponegoro, ketika ia sedang diasingkan oleh penjajah Belanda di Benteng Fort Rotterdam.

Sebagai seorang pahlawan nasional, Pangeran Diponegoro diasingkan selama 21 tahun dari Jawa, terlebih dahulu ke Manado, hingga akhirnya meninggal dunia di Makassar pada usia 70 tahun pada Senin, 5 Januari 1855.

Raden Hamzah menceritakan bahwa sebelum beliau menghembuskan napas terakhir, Pangeran Diponegoro meminta izin kepada pimpinan Belanda untuk keluar dari Benteng Fort Rotterdam guna mencari lokasi pemakaman untuk dirinya setelah meninggal.

"Sebelum beliau menghembuskan napas terakhir, beliau meminta izin kepada pimpinan Belanda untuk memberikan saya waktu selama 1, 2, atau 3 jam. Beliau ingin mengetahui lokasi persis di mana jasadnya akan dimakamkan. Kalimat ini memiliki makna sakral, karena seseorang seperti beliau harus tahu di mana tubuhnya akan diletakkan setelah menghembuskan napas terakhirnya, karena beliau adalah seorang wali," ujar Raden.

Pangeran Diponegoro akhirnya menemukan lokasi yang tepat untuk tempat peristirahatan terakhirnya. Lokasi tersebut sekarang dikenal dengan nama Jalan Pangeran Diponegoro, di Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Makassar, Sulawesi Selatan.

Alasan Pangeran Diponegoro memilih lokasi tersebut sebagai tempat peristirahatan terakhirnya adalah karena ia menganggapnya sebagai makam santri. Ia dikenal sebagai seseorang yang taat beribadah dan memiliki pemahaman yang mendalam dalam ilmu agama.

"Alasannya adalah karena ia ingin dimakamkan di tempat yang dekat dengan Tuhan, tempat yang dianggap sebagai makam santri. Tempat ini harus memiliki titik yang tepat. Seakan-akan nantinya, di Jawa, akan ada peribadatan khusus. Ini adalah pandangan pribadi saya. Bagi orang Jawa, pergi ke Makassar itu sulit," ungkap Raden.

Setelah menemukan lokasi tersebut, Pangeran Diponegoro kembali ke Benteng Fort Rotterdam. Ia kemudian bertemu dengan anak-anak dan istri, serta menyampaikan wasiatnya.

"Setelah menemukan lokasi pemakaman ini, itulah titiknya, itulah sinyalnya. Kemudian, ia kembali ke Benteng Fort Rotterdam dan bersama anak-anak dan istri, ia menyampaikan pesan bahwa setelah ia meninggal, jasadnya tidak perlu dikembalikan ke kampung halaman. Sudah ada tempat yang telah ia tunjuk sebagai lokasi pemakaman," cerita Raden, dengan panjang lebar menceritakan sisa hidup kakeknya.

Hari demi hari berlalu, dan Pangeran Diponegoro terus menjalani sisa hidupnya di benteng yang sekarang dikenal sebagai Jalan Ujung Pandang. Namun, pada awal pekan tanggal 8 Januari 1855, Pangeran Diponegoro tidak lagi dapat bangkit dari tidurnya.

"Ketika beliau meninggal, Belanda tidak segera bertindak. Pimpinan Belanda juga melakukan koordinasi dengan pihak internal kerajaan karena Pangeran Diponegoro memiliki kedudukan sebagai seorang raja, bukan hanya seorang tawanan perang," tutupnya.

Penulis : Abdul Mugni
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#pangeran diponegoro