Redaksi : Senin, 17 Juli 2023 20:12
Ketua umum partai gelora Anis Matta

BUKAMATA - Anis Matta, Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, mengungkapkan adanya fenomena saling bongkar kasus atau 'dirty job' yang akan terjadi menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Menurut Anis Matta, fenomena ini akan mendominasi pemberitaan politik di berbagai media selama 6 bulan ke depan, menjelang pelaksanaan Pilpres pada 14 Februari 2024.

"Dalam sisa waktu 6 bulan menuju Pilpres, fenomena bongkar kasus akan terus terjadi. Ini akan menjadi dominasi dalam berita politik, dan indikatornya sangat kuat," ungkap Anis Matta dalam keterangannya di Jakarta, Senin (17/7/2023).

Pernyataan tersebut disampaikan Anis Matta dalam program 'Anis Matta Menjawab' Episode #5 dengan tema 'Mengapa Saling Bongkar Kasus Jelang Pilpres 2024', yang disiarkan di kanal YouTube Gelora TV pada Senin (10/7/2023).

Anis Matta menjelaskan bahwa fenomena bongkar kasus menjelang Pilpres 2024 terjadi karena calon presiden (capres) yang akan berkompetisi mengalami krisis ideologi, narasi, dan kepemimpinan.

"Dalam membaca fenomena saling bongkar kasus menjelang Pilpres, saya memiliki empat perspektif. Pertama, adanya efek dosa. Kedua, terjadinya konflik antara elit. Ketiga, adanya krisis narasi, dan keempat, teori Tumit Achilles," jelas Anis Matta.

Perspektif pertama, yaitu efek dosa, sebenarnya tidak terkait dengan proses politik atau Pilpres 2024. Namun, dalam Islam, dosa dapat menyebabkan hati menjadi redup, gelap, keras, kasar, dan penuh ketakutan.

"Dalam konteks politik, jika dosa dilakukan secara berkelompok, dosa tersebut tidak bisa ditutupi dan akan terbuka. Ketika Allah SWT ingin menghinakan seseorang, tak ada yang dapat menghindarkan. Oleh karena itu, dalam politik, dosa yang dilakukan secara berjamaah pasti akan terbongkar pada suatu waktu," tambahnya.

Anis Matta mengibaratkan dosa yang dilakukan sebagai mayat yang dikebumikan dengan kain kafan, namun tidak bisa sepenuhnya ditutupi karena telah terbongkar oleh kehinaan yang disebabkan oleh dosa yang dilakukan.

Perspektif kedua adalah konflik antara elit yang sering terjadi karena kurangnya kesepakatan di antara mereka, sehingga mereka saling bertengkar dan membongkar kasus satu sama lain.

"Konflik antara elit ini bukan konflik dengan rakyat seperti yang terjadi pada Pemilu 2019 yang menyebabkan konflik horizontal dan polarisasi ideologi. Konflik antara elit bersifat lebih diam dan hanya diketahui oleh mereka sendiri, sementara masyarakat umum tidak mengetahuinya," paparnya.

Anis Matta juga mengungkapkan bahwa saling bongkar kasus menjelang Pilpres 2024 akan mirip dengan yang terjadi pada Pemilu 2014, di mana munculnya skandal Bank Century dan beberapa kasus besar lainnya.

Perspektif ketiga adalah adanya krisis narasi atau ideologi. Menurut Anis Matta, situasi global saat ini menghadapi krisis yang memaksa setiap negara mencari cara untuk bertahan dan melakukan lompatan besar yang dapat mengubah tantangan menjadi peluang.

"Dalam Pilpres 2024, tidak akan ada pesta demokrasi yang cantik dan estetis. Tidak akan ada debat dan pemaparan ide-ide dalam perdebatan. Situasi yang ada membuat orang menjadi bingung, sehingga mereka lebih cenderung menggunakan ketakutan daripada harapan," katanya.

Terakhir, perspektif teori 'Tumit Achilles' juga akan digunakan untuk saling bongkar kasus menjelang Pilpres 2024. Teori ini mengacu pada upaya mencari titik kelemahan lawan agar dapat memenangkan Pilpres.

Anis Matta menjelaskan bahwa teori ini merujuk pada kelemahan yang tidak bisa dibunuh dalam duel, tetapi harus dicari titik lemahnya. Dalam hal ini, para calon pemimpin akan mencari kelemahan lawan untuk menjatuhkannya dalam Pilpres.

Anis Matta juga mengaitkan penggunaan efek ketakutan dalam Pilpres Amerika Serikat (AS) yang terjadi sebelumnya. Ia menunjukkan bahwa Donald Trump dan Joe Biden terpilih sebagai Presiden AS karena berhasil menggunakan ketakutan orang dengan pendekatan teori 'Tumit Achilles'.

Dalam Pilpres 2024, Anis Matta memprediksi bahwa setiap individu akan lebih fokus mencari kelemahan lawan daripada melihat kekuatan narasi yang ditawarkan.

"Anda tidak akan melihat kesatria atau jagoan Anda berduel di atas panggung tinju atau Mixed Martial Arts (MMA). Para sniper yang mencari titik kelemahan lawanlah yang akan lebih efektif. Orang tidak akan memunculkan kekuatannya, tetapi memburu kelemahan lawan," tutup Anis Matta.