Redaksi : Minggu, 02 Juli 2023 16:52
Dalam program Petamaya, Partai Gelora membahas perihal bacapres pada episode kedua, mengingat topik ini akan semakin panas menjelang Pebruari 2024.

JAKARTA, BUKAMATA - Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia kembali bekerja sama dengan Lembaga Riset Digital Cakradata untuk mengamati perbincangan sengit di media sosial mengenai bakal calon presiden (bacapres) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Dalam acara yang diberi nama Petamaya, Partai Gelora membahas perihal bacapres pada episode kedua, mengingat topik ini akan semakin panas menjelang Pebruari 2024.

"Kami tidak hanya membahas popularitas bacapres, tetapi juga tangkapan digital mengenai tiga kandidat yang sedang hangat diperbincangkan di dunia maya," ujar Endy Kurniawan, Ketua Bidang Rekruitmen Anggota DPN Partai Gelora, pada Minggu (2/7/2023).

Endy menjelaskan bahwa Partai Gelora tidak bermaksud menghakimi dalam riset digital ini, melainkan ingin menghadirkan fakta-fakta positif dan negatif mengenai para kandidat bacapres.

"Ketiga bacapres yang ada saat ini adalah Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto. Kami tidak menghakimi, tetapi kami menyampaikan hasil riset yang mungkin berbeda dengan lembaga survei," tambahnya.

Fakta-fakta tersebut akan dijelaskan secara detail oleh Kepala Lembaga Riset Digital Cakradata, Muhammad Nurdiansyah, dalam riset yang dilakukan pekan lalu.

"Kami akan mengungkap apakah tangkapan kami di dunia digital ini sejalan dengan lembaga survei atau tidak. Semua akan dibahas secara mendalam dalam Gelora Petamaya episode kedua ini," ujar Muhammad Nurdiansyah.

Dalam penelitian ini, Muhammad Nurdiansyah mengungkapkan bahwa topik bacapres di dunia maya akan terus menjadi perbincangan hingga 2024. "Kami akan menganalisis dukungan bacapres di dunia maya dengan cermat," kata Muhammad Nurdiansyah.

Dadan, panggilan akrab Muhammad Nurdiansyah, menyebut bahwa sampel penelitian diambil pada 16-23 Juni 2023. Selanjutnya, media monitoring dilakukan secara fleksibel untuk mengamati tren percakapan dan tingkat popularitas di dunia digital.

"Kami menyebutnya popularitas digital, karena berdasarkan pembicaraan netizen, ketiga nama calon presiden sangat mendominasi," jelasnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ganjar Pranowo memiliki persentase percakapan popularitas digital sebesar 45%, sedangkan Anies Baswedan sebesar 27% dan Prabowo Subianto sebesar 28%. Persentase ini mencakup pembicaraan positif dan negatif.

"Jika kita membandingkan total percakapan, Ganjar Pranowo memiliki keunggulan dengan 76 ribu percakapan. Anies Baswedan memiliki sekitar 44 ribu percakapan, sedangkan Prabowo Subianto mencapai sekitar 70 ribu percakapan," ungkapnya.

Dalam hal sentimen percakapan di dunia maya, Ganjar Pranowo mendapatkan sentimen positif sebesar 77%, sentimen negatif sebesar 18%, dan sisanya netral. Sementara itu, Anies Baswedan mendapatkan sentimen positif sebesar 53%, namun sentimen negatifnya mencapai 40%, dengan sisanya netral. Prabowo Subianto memiliki sentimen negatif sebesar 20% dan sentimen positif sebesar 74%, dengan sisanya netral.

Namun, ada hal menarik yang perlu diperhatikan. Meskipun Ganjar dan Prabowo memiliki jumlah percakapan yang lebih tinggi, namun total engagement Anies Baswedan lebih tinggi dengan lebih dari 947 ribu interaksi. Hal ini dikaitkan dengan interaksi akun-akun yang membicarakan Anies dan memiliki jumlah pengikut yang tinggi," paparnya.

Dalam riset ini, Dadan juga membahas dukungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto. "Di kalangan netizen, keduanya memiliki potensi dukungan yang besar. Terlebih lagi, hasil survei menunjukkan bahwa Prabowo berhasil melampaui Ganjar dan Anies," katanya.

Sementara itu, mengenai beredarnya foto Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan saat melaksanakan ibadah haji dengan pasangan masing-masing, foto tersebut ternyata dapat meredakan ketegangan antara pendukung Ganjar dan Anies.

"Foto ini memicu pro dan kontra di kalangan netizen, namun perdebatan dan ujaran kebencian antara pendukung Ganjar dan Anies seakan mereda setelah foto tersebut muncul. Anies yang selama ini dianggap sebagai pendukung politik identitas oleh pendukung Ganjar, ketegangannya sedikit mereda dengan adanya foto tersebut," jelasnya.

Namun, kebersamaan antara Prabowo dan Jokowi justru tidak disukai oleh pendukung Prabowo dalam Pilpres 2014-2019. Fitnah terhadap Jokowi oleh pendukung Prabowo dalam Pilpres sebelumnya kembali muncul, menunjukkan bahwa sebenarnya Prabowo tidak menyukai Jokowi.

"Fitnah tersebut disertai dengan konten kreatif dari para kreator, seperti isu bahwa Prabowo membeli alat-alat militer usang dari Qatar. Netizen menganggap Prabowo memiliki masa lalu yang kelam ketika masih aktif di militer. Meskipun isu negatif ini muncul, analisis menunjukkan bahwa hal tersebut tidak mempengaruhi tren positif Prabowo," ungkapnya.

Berdasarkan paparan dari Lembaga Riset Digital Cakradata, Endy Kurniawan menegaskan bahwa para pendukung Partai Gelora dan netizen sekarang sudah dapat menentukan arah dukungan mereka terhadap bacapres, atau setidaknya melihat performa digital dari ketiga bacapres tersebut.