Wiwi : Minggu, 28 Mei 2023 14:41

MAKASSAR, BUKAMATA - Perubahan iklim hingga masyarakat miskin makin miris di Indonesia. Olehnya, pemerintah bersama sejumlah staleholder terus berupaya agar masalah tersebut segera teratasi.

Salah satunya, melalui komitmen mewujudkan ekonomi hijau di Indonesia. Upaya ini meliputi peningkatan kualitas lingkungan hidup, peningkatan ketahanan bencana dan perubahan iklim, serta pembangunan rendah karbon.

Kepala Bank Indonesia, Causa Imam Karana saat dikonfirmasi mengatakan, ekonomi hijau menjadi salah satu gagasan pemerintah, khususnya Bank Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan serta kesetaraan sosial masyarakat.

"Bank Indonesia bersama pemerintah dan stakeholder lainnya terus berupaya mewujudkan green economy di Indonesia,"kata dia beberapa waktu lalu.

Causa menjelaskan, ekonomi hijau adalah kegiatan ekonomi yang dapat menciptakan kesejahteraan masyarakat melalui pembatasan sumber daya alam dan rendah karbon.

Untuk mewujudkan ini, kata dia, diperlukan pertumbuhan ekonomi hijau atau biasa disebut green growth yang tangguh dengan tidak mengesampingkan permasalahan lingkungan, mengedepankan pembangunan rendah karbon serta inklusif secara sosial.

"Jadi lingkungan dijaga, keuangan dijaga,"katanya.

Salah satu upaya Bank Indonesia dalam mewujudkan ekonomi hijau, lanjut Causa, adalah menciptakan UMKM Hijau.

"Ini merupakan salah satu inisiatif dalam framework Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Hijau Bank Indonesia,"tambahnya.

Upaya dan proses transformasi hijau Bank Indonesia diterapkan baik dari sisi kebijakan dan kelembagaan.

Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia mendorong terciptanya pembiayaan berwawasan lingkungan (green financing) melalui penerbitan peraturan rasio Green Loan to Value (LTV)/Financing to Value (FTV), Green Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM), serta mengembangkan instrumen pasar uang hijau.

Lebih lanjut, dari sisi kelembagaan, Bank Indonesia berupaya dan berproses untuk melanjutkan transformasi dari aspek tata kelola, manajemen risiko, strategi serta performance indikator hijau.

"Hal ini menunjukkan komitmen Bank Indonesia untuk mengawal transformasi hijau dari semua aspek sehingga dapat pula menjadi best practice kelembagaan sekaligus bank sentral hijau,"ungkap Causa.

Melalui kegiatan ini, Causa berharap, dapat terjalin sinergi dan kolaborasi yang lebih kuat antar berbagai pihak sehingga terdapat upaya yang masif dalam mendiseminasikan dan mereplikasi model bisnis UMKM hijau.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan ekonomi hijau. Salah satunya menggandeng World Agroforestry Centre (ICRAF) melaksanakan Lokakarya Pelatihan Pengantar Kerangka Kerja dan Metdologi Perencanaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau  yang Berketahanan Iklim, Pangan, dan Responsif Gender.

Pemprov Sulsel dalam hal ini Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Sulsel dan ICRAF berkomitmen mewujudkan Green Economy untuk lebih mementingkan aspek lingkungan hidup dalam pembangunan daerah.

Kepala Bappelitbangda Sulsel Darmawan Bintang mengatakan bahwa Green Economy atau ekonomi hijau merupakan konsep pembangunan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Hal ini juga telah menjadi kesepakatan internasional.

Menurutnya, selama ini Pemprov Sulsel bekerja dengan hanya melihat pertumbuhan ekonomi saja tanpa melihat aspek lingkungan dan social.

"Kita harus bergerak tidak hanya memikirkan pertumbuhan ekonomi, namun bagaimana bisa memajukan kesejahteraan masyarakat, dan terutama kita harus melakukan pembangunan tanpa mengorbankan lingkungan," ucap Wawan sapaan akrabnya.

Mendukung hal tersebut Pempov Sulsel mulai memperhatikan terkait pembiayaan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan, memperhatikan kelestarian lingkungan dan pula membangun infrastruktur yang memperhatikan aspek-aspek lingkungan.