Dewi Yuliani : Kamis, 23 Februari 2023 11:25
Hijrah Lail

MAKASSAR, BUKAMATA - Namanya Hijrah Lail. Di usianya yang masih sangat muda, 32 tahun, ia telah menjadi salah satu kandidat Doktoral di Universitas Hasanuddin melalui Beasiswa LPDP.

Hijrah adalah satu dari sekian banyak perempuan Albino di Sulawesi Selatan (Sulsel), yang mampu membuktikan kualitas dirinya. Ia terlahir dengan kondisi kekurangan melanin sehingga warna kulit, rambut dan matanya cenderung berwarna putih terang.

Terlahir sebagai perempuan Albino di sebuah daerah dengan pemikiran masyarakat yang cenderung primitif, tidak mudah bagi Hijrah semasa kecil. Di lingkungannya, ia dikucilkan karena dianggap sebagai kutukan. Apalagi, dua saudara lelakinya juga terlahir Albino. Di sekolahpun demikian. Bahkan tidak ada yang mau duduk sebangku dengannya.

Bullying sudah kerap ia alami sejak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas. Namun, itu tidak membuatnya patah semangat ataupun dendam. Juga tak membuatnya takut untuk tetap ke sekolah.

Bagi Hijrah, ia tetaplah perempuan beruntung. Ia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya. Sang Ayah, Jajong, yang berprofesi sebagai seorang pendidik, tak henti memberinya motivasi. Begitupun Sang Ibu, Johari, yang melimpahinya dengan kasih sayang.

Selepas SMA, Hijrah yang ingin melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi di Makassar, sempat terhalang restu orangtua. Gaya hidup anak-anak di perkotaan, menjadi salah satu alasan keluarganya tidak mengizinkannya kuliah di Makassar. Ia diminta untuk kuliah di Jeneponto saja, daerah kelahirannya.

Namun, tekad Hijrah sudah bulat. Restu dari keluarga membuatnya terlambat mengikuti seleksi di perguruan tinggi negeri. Ketika itu, satu-satunya perguruan tinggi yang membuka pendaftaran hanyalah Universitas Muhammadiyah Makassar.

Restu berhasil dikantongi, setelah menandatangani perjanjian di atas kertas bermaterai, bahwa ia akan menempuh pendidikannya dengan sebaik-baiknya, dan tidak akan bertingkah yang bisa membuat malu keluarga.

Hijrah mulai menikmati setiap proses di bangku kuliah. Tidak lagi ada bulying, ataupun diskriminasi. Hingga kemudian ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dan menyandang gelar sarjana. Bahkan dinobatkan sebagai lulusan terbaik.

Ujian kembali datang ketika Sang Ibu, Johari meninggal dunia. Kabar itu diterimanya ketika ia akan menjalani seleksi beasiswa S2-nya. Pihak keluarga sudah memintanya untuk tetap melanjutkan seleksi, dan akan menunggunya pulang sebelum jenazah Sang Ibu dimakamkan. Namun bagi Hijrah, Ibu adalah segalanya.

"Mendengar kabar Ibu meninggal, saya pulang. Saya tinggalkan ujian beasiswanya. Bagi saya, ibu segalanya," tuturnya.

Sepeninggal Sang Ibu, Hijrah yang merasa kehilangan separuh hidupnya mulai kehilangan harapan. Apalagi, keinginan melanjutkan ke jenjang S2 dengan beasiswa juga pupus. Hingga kemudian Sang Ayah yang memperhatikan perubahan perilaku puterinya, meminta Hijrah untuk melanjutkan pendidikannya. Tentu dengan biaya dari keluarga.

"Saya sempat menolak karena tidak mau membebani orangtua, tapi setelah dibujuk dengan berbagai pertimbangan, saudara-saudara juga mendukung, akhirnya saya iyakan. Saya kemudian mendaftar di Unhas, dan alhamdulillah lulus," ujarnya.

Hijrah kemudian berhasil menyelesaikan S2-nya di Unhas. Ia kemudian bekerja sebagai Dosen di Universitas Muhammadiyah Sinjai. Tekadnya untuk terus belajar tak berhenti disitu.

Ia mengikuti seleksi untuk mendapatkan beasiswa LPDP. Pertama kali ia gagal. Namun setelah mengikuti seleksi kedua kalinya, berhasil. Kini, ia sementara menempuh pendidikan Doktoralnya di Universitas Hasanuddin.

Bagi Hijrah, semua ciptaan Tuhan itu sempurna, sehingga tak ada satupun alasan untuk membuat kita insecure. Kamu akan menjadi seperti apa yang kamu pikirkan. Karena itu, sangat penting untuk selalu berpikir positif. (*)