MAKASSAR, BUKAMATA - Deputi Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan (Lalitbang) BKKBN RI, Prof. Drh. Muh. Rizal Martua Damanik, MRepSc, PhD, memaparkan kondisi stunting di Indonesia, dan bagaimana strategi dalam mencegah lahirnya bayi stunting, dalam program Kopi Tumpah yang dipandu host Nana Djamal, dan ditayangkan di kanal youtube bukamatanews.
Menurut Prof Rizal Damanik, masalah stunting adalah persoalan lama, namun dalam dua atau tiga tahun terakhir ini mendapat porsi atau perhatian yang luar biasa dari pemerintah. Dimana, Presiden menugaskan BKKBN sebagai Koordinator Percepatan Penurunan Stunting.
"Persoalan stunting ini sudah lama ada, dan tiap tahun terjadi penurunan. Tetapi, sekarang harus dipercepat. Apalagi, stunting di Indonesia menjadi sorotan PBB, karena angka prevalensi stunting di Indonesia tahun 2020 itu sangat tinggi. Mencapai 27,7 persen," ungkapnya.
Setelah melakukan percepatan, pada tahun 2021, angka prevalensi stunting berhasil diturunkan menjadi 24,4 persen. Lalu di tahun 2021, ditekan menjadi 21,6 persen.
"Percepatan penurunan stunting ini menjadi program prioritas nasional dan kita sudah punya rencana strategis. Kita target angka prevalensi stunting 14 persen di tahun 2024 nanti," bebernya.
Prof Rizal Damanik mengakui, butuh kerja keras dan kerja cerdas di lapangan untuk menurunkan stunting. Tidak hanya BKKBN saja, namun butuh konvergensi berbagai kementrian dan lembaga. Apalagi, berbicara stunting, gangguan tumbuh kembang akibat kurang gizi kronis dan infeksi berlanjut, bukan hanya disebabkan soal pangan.
"Misalnya di suatu daerah yang memiliki banyak pangan, tapi tidak dikonsumsi akibat ketidaktahuan masyarakat. Mereka tidak tahu kalau buah naga merah itu tinggi kandungan antioksidannya. Mangga tinggi vitamin A dan C, melimpah, tapi dibiarkan begitu saja," urainya.
"Butuh edukasi. Cara mengonsumsinya juga perlu diperhatikan. Ada bahan pangan, tapi dia mampu beli tidak? Memang perlu konvergensi, tidak hanya satu sektor tadi," sambungnya.
Salah satu tantangan yang dihadapi, tambah Prof Rizal Damanik, stunting merupakan hal baru bagi masyarakat, meskipun sebenarnya sudah menjadi persoalan lama. Kemudian saat pandemi, isu baru tersebut disampaikan secara virtual akibat pembatasan. Meski demikian, percepatan penurunan stunting tetap bisa dilakukan, kurang lebih 3 persen tiap tahunnya.
"Sekarang aktivitas masyarakat sudah mulai normal. Kita harapkan percepatan bisa dilakukan lebih massif lagi. Tapi sejauh ini sudah on the track, dan kami yakin bisa mencapai target angka prevalensi stunting 14 persen di tahun 2024 mendatang," pungkasnya. (*)
BERITA TERKAIT
-
Gubernur Sulsel Terima Penghargaan BKKBN atas Komitmen Penanganan Stunting
-
Pemprov Sulsel Massifkan Sosialisasi Kampanye Percepatan Penurunan Stunting
-
Pj Sekprov Sulsel Resmi Launching Percepatan Penurunan Stunting Libatkan Babinsa
-
Setiawan Aswad Jadikan Agustus Bulan Kunjungan Anak Asuh di Kabupaten Takalar
-
Capaian Indikator Percepatan Penurunan Stunting di Sulsel Belum Optimal