Menag Salurkan Bantuan untuk Madrasah, Guru, dan Siswa Terdampak Longsor Cisarua
01 Februari 2026 20:42
Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan ada pada level cukup tinggi 4,5-5,3% pada 2023 dan 4,7-5,5% pada 2024
BUKAMATA - Tahun 2023 Indonesia diprediksi menghadapi badai berupa perlambatan ekonomi global. Meski begitu masih ada secercah harapan yang tersisa.
Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan ada pada level cukup tinggi 4,5-5,3% pada 2023 dan 4,7-5,5% pada 2024. Adapun inflasi akan kian terkendali dan diprakirakan turun dan kembali ke sasaran 3,0% ±1% pada 2023 dan 2,5% ±1% pada 2024.
Dari sektor riil, geliat sektor industri juga masih dapat berlanjut di 2023. Kemenperin memproyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nasional
sepanjang tahun 2022 mencapai 5,01%, dan pada 2023 ditargetkan sebesar 5,1-5,4%. Lalu bagaimana dunia usaha menanggapinya?
Memasuki tahun 2023 iklim dunia usaha mulai kembali bangkit. Pasca pandemi yang menghantam dunia dan Indonesia, di tambah lagi krisis global dan ancaman resesi. Meski demikian, sektor usaha harus terus berjalan agar roda perekonomian dalam negeri tetap berjalan.
Untuk itu, Young Enterpreuner Council (YEC) Indonesia Tionghoa (INTI) Jakarta akan terus memperkokoh dan memperluas networking atau jaringan antar pebisnis baik didalam negeri maupun luar negeri. Hal itu ditegaskan oleh Chairman YEC INTI Jakarta, Yudi Candra.
Upaya untuk memperkokoh dan memprluas networking menurut Yudi Candra, dengan terus melakukan even atau kegiatan rutin bersama para CEO dan tokoh bisnis untuk lebih mengetahui lebih dalaam terhadap iklim bisnis apa yang menjadi potensi dan peluang untuk terus dikembangkan.
“Kita ada agenda untuk bertemu para pebisnis-pebisnis hebat baik yang muda maupun yang sudah senior berdasarkan recommendasi member dan approve dari komite. Tujuannya untuk terus mengembangkan dan menimba ilmu bersama akan pengembangan dan melihat peluang dunia usaha,” katanya dikutip Sabtu (28/1/2023).
Wakil Ketua Umum Kadin Koordinator Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri, Shinta Kamdani, pede IKN masih menjadi proyek strategis bagi para investor. Selama bisa memberi kepastian dari sisi demand maka investor akan datang ke IKN.
"Kembali ke komersial, demand-nya (permintaannya) ada nggak? Pasarnya siapa? Siapa yang mau pindah ke sana? Selama kita bisa menjustify (menyuguhkan) itu investor akan mau, apalagi yang fokus di investasi berkelanjutan," kata Shinta di Hotel JW Marriott, Jakarta, Selasa (25/10).
Shinta menjelaskan, IKN didesain sebagai Ibu Kota dengan teknologi smart city dan ramah lingkungan. Hal tersebut tentu menjadi daya tarik, khususnya bagi investor yang memberi perhatian di sektor energi bersih.
"Kan pak presiden mengatakan this is forest modern city, ini smart city, bukan sembarang cuma bangun ibu kota," tegas Shinta.
Di sisi lain, Shinta mengungkapkan para pengusaha akan tetap optimis namun tetap berhati-hati dalam menghadapi the perfect storm alias krisis multidimensi.
Sementara itu, PT Lautan Luas Tbk (LTLS), perusahaan manufaktur bahan kimia mengaku tetap optimistis menghadapi perkembangan ekonomi tahun ini. Investor Relations Lautan Luas, Eurike Hadijaya mengatakan perusahaan masih tetap positif dalam targetnya sambil tetap waspada dengan gejolak makro.
"Melihat berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah seharusnya pertumbuhan ekonomi masih bisa tetap terjaga positif. Kami meyakini, kinerja Lautan Luas juga akan semakin tumbuh di tahun 2023 ini, seiring dengan berbagai kebijakan strategis yang sedang disiapkan oleh management," kata Eurike dalam keterangannya, Jumat (13/1/2023).
01 Februari 2026 20:42
01 Februari 2026 17:46
01 Februari 2026 14:50
01 Februari 2026 10:33