Menag Salurkan Bantuan untuk Madrasah, Guru, dan Siswa Terdampak Longsor Cisarua
01 Februari 2026 20:42
Kondisi perdagangan Indonesia yang terus mengalami surplus hingga USD51 miliar, akibat nilai ekspor yang terus meningkat kata Erick menjadi kekhawatiran bagi banyak negara lain di dunia.
BUKAMATA - Upaya Indonesia untuk melakukan hilirisasi terhadap sejumlah kekayaan alam nampaknya ditentang oleh berbagai negara barat. Uni Eropa bahkan mengajukan gugatan kepada rganisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas kebijakan Indonesia melarang ekspor sejumlah kekayaan alam seperti bijih nikel hingga bauksit.
Kendati demikian Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyatakan, Indonesia tidak gentar dengan gugatan tersebut.Apalagi, kebijakan UE yang menerapkan green industrial plant dinilai merugikan Indonesia.
"Artinya mereka ingin pelan-pelan menutup market kita. Jadi market kita harus dibuka tapi market mereka harus ditutup dengan alasan-alasan kebijakan yang tentu disusupi. Ini dinamika yang terjadi karena kalau kita lihat data ekonominya, (banyak negara Eropa) menuju resesi," kata Erick dalam siaran pers, Minggu (22/1/2023).
Kondisi perdagangan Indonesia yang terus mengalami surplus hingga USD51 miliar, akibat nilai ekspor yang terus meningkat kata Erick menjadi kekhawatiran bagi banyak negara lain di dunia.
"Ini yang ditakutkan negara-negara pesaing kita karena memang sampai 2045 kita direncanakan mungkin masuk empat atau lima ekonomi besar dunia. Mereka sudah membaca data ini, makanya mereka ingin kita lebih lambat, istilahnya jangan cepat kaya lah Indonesia," kata Erick.
Untuk mengatasi itu, Erick menyebut Indonesia harus menjaga momentum untuk menjadi negara besar. Menurut dia, Indonesia harus bersiap mengambil langkah dalam menatap situasi perekonomian pada 2023.
Diketahui IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2023 mencapai lima persen atau menempati peringkat kedua dari negara-negara G20 di bawah India dengan 6,10 persen.
Proyeksi tersebut unggul dibandingkan Cina dengan 4,4 persen, dan Amerika Serikat (AS) dengan 1 persen. Sementara negara-negara G20 lain seperti Italia, Jerman, Rusia, diproyeksikan mengalami pertumbuhan negatif.
"Dinamika ke depan ditentukan oleh kebijakan hari ini. Situasi ekonomi pascapandemi kita lihat rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia sampai 2027 itu ada di 4,3 persen (data IMF). Perbandingannya dengan negara-negara G20 posisi kita sangat baik, ini konteks menarik artinya posisi kita sudah baik, apakah kita ada kekurangan, pasti ada," ucap Erick.
01 Februari 2026 20:42
01 Februari 2026 17:46
01 Februari 2026 14:50
01 Februari 2026 10:33